Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Misteri Kematian Laksmi (Part 1)

Misteri Kematian Laksmi (Part 1)

"Indah masuk kamar dulu, ya, Bu" ucap Indah pada sang Ibu. Seraya berjalan menuju kamar.

"Iya, jangan lupa belajar dulu, Nak," perintah Ibu pada Indah.

"Siap, Bu," jawab Indah. 

Tok tok tok....

"Bu, ada tamu," ujar Ayah yang sedang fokus menonton televisi.

"Siapa, udah malam masih bertamu," gerutu Ibu. Padahal hendak tidur karena lelah seharian berkelana dengan urusan rumah tangga.

"Ya, dibuka dulu, Bu. Mana tau penting." 

"Iya, Yah," Seraya berjalan menuju pintu.

Kreek

Pintu pun terbuka. Ternyata Parman Adik kandung Laksmi. Dia datang tak sendiri, melainkan dengan seorang wanita, ya wanita yang tak asing bagi Laksmi.

"Assalamualaikum, Kak," sapa Parman seraya mencium punggung tangan sang Kakak. Dan diikuti oleh wanita yang sedari tadi berdiri di belakang Parman.

"Siapa, Bu?" ujar Rudi. Suami Laksmi.

"Parman, Yah" jawab Laksmi singkat. Dengan menunjukan wajah 'tak sukanya pada wanita yang di bawa oleh Adiknya itu.

"Assalamualaikum, Bang," sapa Parman pada sang Abang ipar. 

"Waalaikumussalam, ehh Parman, masuk sini. Tumben malam-malam kesini, bawa Cewek lagi," ucap Rudi sambil terkekeh yang di sambut ketawa renyah oleh sepasang insan yang sedang di mabuk cinta itu.

Parman dan wanita itupun masuk, dan duduk di sofa.

"Bu, buatkan minum untuk tamu kita," perintah Rudi yang di sambut wajah masam sang Istri.

"Jangan repot-repot, Bang, kami hanya sebentar." Ternyata Parman sadar akan ketidak sukaan Laksmi terhadap Lisa.

"Ya sudah, to the point aja, ada perlu apa kesini?, pakai acara bawa perempuan itu kesini!" Ucap Laksmi dengan penuh penekanan.

"Jadi, gini, Kak, Bang." Parman menjeda ucapannya sambil melirik Lisa. "Saya mau minta restu, karena saya berniat meminang Lisa bulan depan," jelas Parman dengan sedikit gugup.

"Apa ...?" suara Laksmi menggema di dalam ruangan. "Kamu mau nikahin perempuan murahan kayak dia!" dengan nafas terengah-engah. "Kakak tidak setuju ...!" ucap Laksmi dengan lantang.

"Tapi Kak—"

"Tapi, apa?" 

"Tapi saya cinta sama Lisa Kak," lirih Parman yang dengan erat menggenggam tangan Lisa.

"Kamu Tau, kan? dia itu pelakor! Perebut laki orang ...! Laksmi mulai murka. Sedangkan Rudi mencoba menenangkan, tapi nihil. Jika sudah marah jangankan suami, Pak RT pun akan menyerah.

Lisa memang terkenal sebagai pelakor, karena dia sudah merebut Pak Andri dari Bu Jeinab. Berita yang terdengar karena Pak Andri tajir melintir, sampai-sampai demi mendapatkan Lisa Pak Andri rela menceraikan Bu Jeinab yang baru melahirkan anak kedua mereka.

"Itu kejadian tiga tahun yang lalu, Kak, sekarang Lisa sudah berubah. Dia sudah bertaubat dan akan menjalani hidup baru bersama saya." Lalu Parman menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. "Kalau, Kakak tidak setuju juga, maka terpaksa saya akan menikahi Lisa tanpa restu dari Kakak."

Laksmi pun terperangah mendengar penuturan Adik semata wayangnya, yang tak pernah berkata kasar dan selalu penurut. Berbeda dengan malam ini.

"Kalau itu keputusan yang Kamu pilih, silahkan pergi dari sini ...!" Sergah Laksmi dengan dada terasa sesak mendengar perkataan Adik yang selalu di bangga-banggakan selama ini.

"Baik, lah, kami permisi pulang dulu." Parman dan Lisa pamit pulang, tetapi saat ingin mencium tangan Laksmi, ia memalingkan wajahnya.

"Bang, kami permisi pulang dulu," ucap Parman sambil berjalan menuju pintu, yang diikuti oleh Lisa dan Rudi.

"Man, jangan terlalu di ambil hati ucapan kakakmu, dia hanya sedang emosi. Kalau emosinya sudah reda kamu bisa kesini lagi. Kakakmu sekarang saja keras paling nanti pas kamu pulang dia langsung nangis," canda Rudi berhasil membuat wajah murung Parman kembali tersenyum. Walau di dalam hati merasa bersalah karena sudah berkata kasar pada sang kakak.

"Yasudah kami pamit dulu, Bang, assalamualaikum" Parman pun pergi bersama Lisa yang tampak gelisah karena mengingat masa lalunya yang buruk.

" Kenapa dia tega berbicara sekasar itu padaku ...," lirih Laksmi yang larut dalam tangisnya. Benar yang di ucap Rudi tadi.

" Sudah, Bu, lebih baik kita tidur, ya," bujuk Rudi pada sang Istri, yang di balas dengan anggukan.

Rudi yang mengerti akan kondisi sang Istri lantas memeluk Laksmi dalam dekapan. "Kamu boleh nangis sepuasmu dalam pelukanku, asal jangan terlalu berisik nanti Indah bangun."

Laksmi larut dalam pelukan Rudi, menurutnya hanya Rudi yang dapat mengerti apa yang sedang di rasakan olehnya.

"Ini bajuku sampai basah, kira-kira basah karna air mata atau— karena ingus ya." Rudi berusaha mencairkan suasana. Mendengar penuturan sang suami Laksmi lantas melepaskan pelukannya.

"Ish Ayah ini ... yasudah ibu mau ke kamar mandi dulu. Dengan raut muka yang menahan malu.

***

"Indah ... sini sarapan dulu sebelum sekolah, biar fokus nanti pas belajarnya," tutur Ibu pada anak perempuannya itu.

"Wah, Ibu masak ayam goreng, ya." Yang langsung mengambil paha ayam, yang mengunyahnya dengan lahab.

"Makan yang banyak, ya, Sayang." Menatap anaknya yang sedang makan dengan lahap membuat Laksmi merasa bahagia.

"Sudah selesai makannya, Ndah? ayo pergi sekolah, biar Ayah antar sambil pergi kerja," ucap Rudi sambil membungkus cerurit dengan kain.

Rudi memang bekerja di sebuah kebun kelapa sawit tiap harinya, walupun perkejaan yang lumayan berat karena harus memetik kelapa sawit, tapi dia tetap semangat untuk keberlangsungan hidup anak dan istrinya.

Memetik kelapa sawit bukanlah hal yang mudah, tak jarang Rudi harus pergi ke tukang urut karena otot perut yang turun.

"Yah, itu hati-hati bawa cerurit sambil bonceng Indah." Laksmi terus mewanti-wanti sang suami.

"Udah, Ibu tenang saja Ayah, kan, sudah profesional." Sambil mengedipkan sebelah matanya pada sang istri yang menghasilkan gelak tawa yang anak.

***

Beberapa jam setelah Rudi dan Indah pergi, Laksmi bersiap-siap membereskan pekerjaan rumah yang sudah menanti.

Setelah pekerjaan rumah sudah selesai, Laksmi pergi menuju kamar mandi untuk mencuci pakaian.

Kreek 

Pintu depan tiba-tiba dibuka oleh seseorang yang memakai topeng, mencari seseorang yang berada dalam rumah tersebut sambil mengendap-endap.

Laksmi yang tak sadar ada orang lain di dalam rumah selain dirinya, masih sibuk menyikat pakaian. Sikat yang dengan suara khasnya membuat Laksmi hanyut dalam suasana tanpa melihat sekeliling.

Tiba-tiba Laksmi terkejut dengan seseorang yang berada di belakangnya yang meletakkan benda tajam tepat di leher jenjangnya.

"Ka–mu si–si–apa?" ungkap Laksmi terbata-bata karena takut jika benda tajam itu menggorok lehernya.

"Saatnya kamu mati ...!" suara yang sangat di kenal oleh Laksmi.

"Ka–mu ...!" lirih terdengar suara Laksmi yang mulai terdengar parau, ya jelas dia sangat mengenal suara itu.

"Dengan kematianmu maka 'tak ada lagi orang yang dapat menghalangi hubunganku dengan kekasihku, hahaahaaa ...." 

"Jahat! ternyata kamu pura-pura baik di depanku," sesak di dada semakin bergejolak di dada Laksmi.

"Ya ... aku sudah minta izin baik-baik padamu, tapi apa? kau menolak mentah-mentah permintaanku. Itu yang membuatku menjadi membenci mu Sayang ...."

Dengan brutal pria itu menggorok leher Laksmi.

"Aakhh ...."

Itulah suara terakhir yang keluar dari mulut Laksmi. Seorang ibu yang mempunyai anak berumur 10 tahun itu meregang nyawa dengan tragis di tangan orang yang di sayangnya.

***

"Sayang, gimana? apa kamu berhasil membunuhnya?" suara seorang wanita yang berbicara dengan laki-laki yang baru menghampirinya.

"Kamu tenang saja, Sayang, semua berjalan dengan lancar. Sudah ku pastikan 'tak ada seorangpun tau. Sekarang kita bisa menjalin hubungan tampa bayang-bayang wanita itu, Sayang."

BERSAMBUNG ....

Nb : Krisan sangat di butuhkan

Cerbung pertama saya, semoga suka. Selamat membaca. [kmi]

Oleh : Desy Karmilaa

Getting Info...

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.