Siang itu gerbang besar terbuka lebar, keluarlah seorang pemuda yang lumayan bersih dan rapi, dengan tas di punggung dia tersenyum lepas memandang sekeliling nya.
Yah pemuda itu adalah si penulis sendiri yang telah di bebaskan dari LP lowokwaru malang, setelah menjalani sepertiga hukuman putusan pengadilan atas kasus pembunuhan tak berencana.
Kini genap sudah umurku 20 tahun, 4 tahun lebih 3 bulan aku menjalani susah dan menderitanya hidup di balik tembok tinggi berkeliling LAPAS klas 1.
Kembali ke cerita~ aku lalu berjalan ke jalan raya menunggu jemputan dari pak harsono sipir yang telah ku anggap seperti bapakq sendiri,.
Tak berselang lama pak harsono pun datang dengan motornya menghampiriku,.
"Gimana yud, sudah siap berangkat pulang rumah,?? Tanya pak harsono kepadaku.
"Sudah pak,.
"Ok kita berangkat sekarang saja agar tak kemalaman di jalan yud,.
"Siap pak, kita lewat jalur selatan saja selain bisa hemat waktu, rumahku kan di lintas selatan lumajang-malang.
"Iya yud.
Lalu berangkatlah kami menuju kampung halamanku, di atas motor yang melaju sedang aku berkali kali menghirup segarnya udara kebebasanku...
Perjalanan kami tempuh kurang lebih 4 jam lamanya, selain medan yang berkelok kelok, pak harsono sendiri tak pernah keluar malang selama bertugas di LAPAS malang, dia pindahan dari kota palembang.
Setibanya di depan rumahku, sambutan ayah ibuku dan keluarga besarku begitu haru dan bahagia serta kulihat ada air mata meleleh pada pipi ibuku yang telah bertambah usia.
Aku menghambur bersujud di kedua kaki ibuku, menangis dan meminta maaf karena telah membuat dia kecewa atas apa yang pernah ku perbuat..
Di usapnya kepalaku dengan kasih sayang,.
"Ibu sudah memaafkanmu dan terlebih maafkanlah juga ibu karena demi ibu kamu rela jadi pembunuh dan menghuni penjara nak..
"Tidak bu, apa yang telah aku lakukan tiadalah sebanding dengan kasih serta sayang mu selama ini, bahkan aku rela jika harus menukar nyawa asal ibu bahagia..
Dia memelukku sambil tetap terisak.
Dalam relung hati yang paling dalam aku berfikir ujian sejatinya adalah saat menjadi mantan NAPI sebab tak mudah menghadapi sinis dan cibir masyarakat sekitar.
Next# akan ku ceritakan lagi kisah nyataku yang mantan seorang napi.. [kmi]
Oleh: Abi Al Ghifary
