![]() |
| Masjid Istiqlal dan Gereja Kategdral / Net |
Ada saja ya ulah para netijul dan netijen di negara +62 ini. Segala sesuatu yang terjadi di negara ini sering ditanggapi dengan "guyonan" atau bercandaan. Misalnya, dengan merebaknya virus CoV atau Virus Corona. Virus berbahaya dari kota Wuhan ini kabarnya sudah menelan korban 700 an orang meninggal (ini yang resmi) yang tidak resmi mungkin ribuan. Namun, kemunculan virus ini ada saja yang menanggapinya dengan bercanda. Misalnya bahwa CORONA adalah kependekan dari COMUNITAS RONDO TANPA ANAK, halah. Ada juga yang dipelesetkan menjadi virus CONGORNA, yaitu virus kebanyakan congor, haha. Aya aya wae.
Nah yang terbaru adalah "guyonan" dari ide seseorang yang akan membangun sebuah TEROWONGAN SILATURAHMI. Yaitu terowongan yang akan menghubungkan antara masjid dengan gereja yang berseberangan.
Munculnya ide ini tentu saja tidak sepi dari kritikan. Seperti yang dipertanyakan oleh Sekertaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti. Beliau mengatakan yang dibutuhkan saat ini bukan simbol-simbol fisik, tetapi insfrastruktur sosial dimana pemerintah secara sungguh-sunguh membangun toleransi yang autentik bukan toleransi basa-basi (Sumber : Hidayatulloh.com, 10/02/2020). Begitu juga dengan PBNU, ormas yang biasanya tidak banyak komentar ini melalui ketumnya Kyai Agil Siroj, mengatakan bahwa toleransi tidak perlu diwujudkan dalam bentuk terowongan. Beliau juga mengatakan mungkin itu hanyalah setrategi politik dari seseorang tersebut. Ah, entahlah saya juga tidak tahu, itu bukan urusan saya, hehe.
Terkait dengan adanya ide pembangunan terowongan itu, di lini massa baik Twitter maupun FB, sudah mulai bermunculan tanggapan-tanggapan atau pun kritikan dari para netijen. Salah satunya adalah kritikan yang berbunyi : dari pada membangun terowongan silaturahmi dari Istiqlal ke Katedral, mendingan untuk membuat by pas dari dengkul ke otak, haha. Menurut saya ini kritik dengan cara bercanda.
Lalu apa tujuannya membuat by pas antara dengkul dengan otak?. Apakah karena otaknya berada di dengkul, sehingga dibutuhkan jalur by pas?. Dengan adanya by pas itu akan mempercepat pindahnya otak dari dengkul. Sehingga otak bisa digunakan untuk berpikir dengan baik. Hehe.
Begitulah gaya bercandaan warga +62 yang terkadang kebangetan. Mungkin ini efek dari teori LGE atau Liang Got Efek Teori (mengambil teorinya mas Teguh Suprayogi). Yaitu pemimpin yang dihasilkan dari pemerhati liang got. Haha. [kbm]
***
Ah, sudahlah. Mungkin dia sudah lelah, jadi selalu memunculkan ide yang bisa mengalihkan perhatian orang dari kasus-kasus besar. Seperti kasus Mega korupsi Jiwasraya, Asabri dan hilangnya Harun Masiku. Hehe.
Sekian.
Oleh : MisterPoerwa
