![]() |
| Ilustrasi Dunia Tanpa Tuhan / Net |
Andai Tuhan di depanku, akan kubuat Ia cemburu dengan makhluk ciptaan-Nya sendiri. Bahkan kalau bisa akan kubuat Ia bertanya, "Bagaimana mungkin? Bagaimana caramu membuat wanita yang sedari awal hanya seonggok daging itu, yang dulunya terlahir bugil itu bisa menjadi bidadari yang teramat cantik?"
Jika benar akan bertanya seperti itu, maka tak akan kujawab. Kubiarkan saja, bahkan akan kugandeng bidadari itu beranjak menjauh. Kubisiki ia, "Ssst ... kita tinggalkan saja Dia sendiri. Bukankah dunia kita lebih asik daripada dunia-Nya? "
Aku yakin bidadari itu akan setuju. Sudah kutanamkan sesuatu di otaknya. Tuhan itu tak ada. Ia hanya tokoh figuratif dari seorang pengkhayal yang gagal atau hasil para perawi yang menghabiskan tiga per empat harinya dengan mabuk imajinasi.
Kadang aku berpikir, hidup tanpa Tuhan seperti mobil yang melibas jalan tol dengan sombong. Masalah adanya larangan, aku kira wajar. Toh, sesekali larangan itu kuterapkan juga pada bidadari itu.
"Kau tak boleh mengangkangi laki-laki dengan gratis!"
Entah berapa kali ucapan itu berlalu-lalang di udara. Mungkin sedikit kasar, namun tak selamanya kuperlakukan ia begitu. Sesekali kubisikkan dengan lembut, "Tetaplah menjadi istriku, Sayang. Kita tak butuh Tuhan, kita butuh uang. Sudahkah kau persiapkan dirimu untuk malam nanti?"
Memang, pertanyaan itu membuat raut wajahnya sedikit berubah. Terlihat murung. Mau bagaimana lagi? Toh, apa yang akan ia lakukan tak seberat tugas Yu Nani yang menghabiskan malamnya di tobong-tobong ludruk, tak selelah Mbak Lastri yang menghabiskan hasil kerjanya dengan bedak-bedak terigu hanya karena ingin tampil menarik di lampu merah, atau tak senista Jeng Miranda sang lelaki kemayu yang menghancurkan tubuhnya di bawah tindihan pria abnormal.
"Santai saja dan lakukan dengan manis. Kita ini manusia. Ayam saja berhak mengangkangi siapa saja, monyet bebas meluapkan birahi semaunya, bahkan anjing pun tak punya target tertentu harus mengawini siapa saja. Jangan mau kalah dengan mereka!" Aku berusaha terus merayu.
Istriku hanya diam meski jari-jari tangannya terus saja menyapu bibir dengan lipen merah terang. Tak lama setelah itu ia berdiri, mengatur napas sebentar, lalu dengan cepat meraih tanganku.
"Baiklah, aku mau! Untuk malam ini, siapa yang kulayani terlebih dulu?"
"Kenal Pak Hadi yang rumahnya di ujung gang?"
"Pak Hadi yang istrinya banyak itu?"
Aku hanya tertawa.
"Iya. Hanya ia yang bisa menyamai ayam-ayam itu, monyet-monyet itu, anjing-anjing itu. Masih ingat kataku tadi, bukan?"
Istriku mengangguk. [kbm]
(tomb's)
Oleh : Arya Djati
