Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Susahnya Meninggal di Jepang

Ilustrasi Pengurusan Jenazah di Jepang
Ilustrasi Pengurusan Jenazah di Jepang / Reuters

Ketika anda datang ke Jepang, apakah anda berpikir tentang mati? Pasti tidak. Bahkan mikir sakit saja tidak. Yang terpikir adalah bagaimana segala sesuatunya lancar tak kurang suatu apa. Selamat sampai balik ke tanah air.
Tapi bagaimana jika tiba-tiba Allah panggil saat di sana? Yah itu memang merupakan takdir Allah. Namun kita juga sebagai manusia harus berpikir yang rasional.

Jepang menganut sistem kremasi pada orang meninggal. Artinya mayat dibakar. Diambil sebagian abunya untuk disimpan di tempat pemakaman. Dengan teknologi yang canggih tentu mayat akan langsung hancur menjadi abu. Mungkin ada beberapa bagian tulang yang tidak hancur, langsung dihancurkan dengan alat khusus.
Secara kajian mereka mungkin pembakaran ini metode yang paling efisien, bagus, higienes dan cepat. Padahal secara umum agama Islam dan juga non Islam melakukan penguburan.

Yang menjadi masalah adalah sangat amat sedikit pemakaman di Jepang. Itu beberapa tahun lalu. Entah sekarang. Selain itu biaya pemakaman itu sangat amat mahal. Bagi muslim menyelenggarakan jenazah adalah fardu kifayah. Artinya jika ada sebagian muslim yang melakukan maka semua Muslim terbebas dari kewajiban. Permasalahannya adalah jika keberadaan muslim di suatu kawasan tidak terdeteksi oleh Komunitas Muslim setempat. Jika ini terjadi, dan si muslim tadi meninggal, maka pemerintah setempat akan membakarnya sesuai prosedur tetap di situ. Bayangkan, betapa ngerinya.
Dan itu sangat mungkin terjadi. Misalnya pada orang Indonesia muslim yang menikah dengan orang Jepang dan jarang atau tidak pernah ikut kumpul di komunitas muslim setempat.

Bagaimana jika dibawa ke tanah air? Bisa. Tapi biayanya sangat amat mahal. Mungkin bisa mencapai 100 juta rupiah. Terus uang siapa yang mau dipakai bawa pulang.

Beberapa tahun lalu ada seorang wanita student yang meninggal pasca melahirkan, saat itu makam Muslim belum ada (atau ada tapi sangat jauh dari lokasi), maka solusinya dipulangkan. Serentak semua muslim di seluruh Jepang berdonasi untuk membawa jenazah pulang. Alhamdulillah kekompakan sesama muslim di negeri minoritas sangat tinggi.

Selanjutnya ada juga pekerja Indonesia yang meninggal di sana. Mungkin kelelahan kerja atau apa. Untuk yang kedua ini saya kurang jelas apa dipulangkan atau dimakamkan di sana.

Seorang teman di Hokkaido pernah kehilangan anaknya yang masih kecil. Dimakamkan di Hokaido. Bayangkan, untuk mencapai lapisan tanah, es mesti dikeruk sampai 2 meter. Memakai eksavator kecil. Karena Hokkaido adalah wilayah Jepang yang lebih panjang musim dinginnya.

Bagi seorang muslim, yang bepergian untuk kebaikan apalagi berdakwah, maka yang paling baik jika meninggal adalah dikuburkan di tempat dia meninggal. Karena itu menjadi saksi di hadapan Allah atas safar dan dakwahnya.
Jika tempat penguburan tersedia dengan mudah, itu tidak ada masalah. Tetapi jika tenyata harus dibakar, tentu itu menjadi masalah bagi kita.
Menjadi masalah bagi saudara muslim yang masih hidup yang berada di wilayah itu.

Sesungguhnya di mana meninggal sudah diterapkan dalam takdir-Nya [kbm]

Ternate, 24 Januari 2020

Oleh : Harudi Mugiyono

Getting Info...

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.