![]() |
| Ilustrasi Istri Yang Marah / Net |
Malam ini aku ninabobokan anak-anakku lebih cepat dari biasanya. Semua jendela dan pintu sudah aku pastikan ditutup rapat oleh suami. Lampu ruangan juga sudah aku matikan. Lalu, aku menuju dan membuka pintu kamar, dan aku melihat Karyo, suamiku sudah duduk di sudut tempat tidur menanti kedatanganku. Gemetar bibirku, jantung yang berdetak tidak karuan merongrong di ruang dada yang hanya berselimutkan piyama biru. Aku tutup perlahan, dan tidak lupa aku kunci pintu kamar ini.
Aku menuju meja rias dan duduk di kursi yang setinggi lutut orang dewasa. Aku lepaskan ikat rambut dan segera meraih sisir. Aku tidak memandang si Karyo sama sekali. Aku mencoba menahan luapan air mata yang sebentar lagi akan jebol seperti bendungan. Aku coba menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis di depannya.
Karyo berdiri, lalu menuju tempat dudukku. Dipegangnya kedua pundakku dari belakang, dan dia hanya menatapku dari pantulan cermin. Aku melirik wajah ndeso-nya sesaat dan kembali aku memandang beberapa pelembap malam untuk aku pakai malam ini.
"Ma, izinkan papa menikah lagi."
Seperti disambar petir! Rupanya ini yang katanya ada hal yang sangat penting yang akan dia bicarakan kepadaku. Aku mencoba membuang wajahku tidak menatap cermin, agar Karyo tidak dapat melihat wajahku. Pandanganku meraba-raba dinding yang selama dua belas tahun setia menemani kami. Foto pernikahan yang masih terpajang rapi di dinding kamar, foto-foto prestasiku di tingkat nasional dalam bidang taekwondo, masih membisu.
"Apa tujuanmu menikah lagi, mas? Apakah aku sudah tidak cantik lagi di matamu?''
Pertanyaanku keluar dari bibir yang bergetar setelah beberapa detik aku terdiam merapikan napas.
"Ini sunnah, sayang." Jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Apakah ini wajib, pa?" Aku mencoba memberi pertanyaan yang akan membuat dia semakin yakin atas pilihannya.
"Aku hanya menjalankan ibadah. Pak Mansyur setuju jika anaknya aku nikahi."
Ya, pak Mansyur memiliki anak perempuan janda satu anak yang ditinggal mati oleh suaminya. Beliau adalah lelaki separuh baya yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Sering kami panggil sekedar membetulkan keran air, mengganti lampu yang putus. Sebenarnya mas Karyo bisa, tapi dengan cara itulah kami membantu uang sakunya dan mencukupi kebutuhan di rumah, karena anaknya yang janda serta cucunya tinggal bersamannya.
"Kamu yakin bisa adil, mas?"
Pertanyaanku kembali menguji tekadnya.
"Insyaallah bisa, ma. Karena semua itu jika kita lakukan dengan niat yang baik maka akan ada jalan." Jawabnya dengan penuh percaya diri.
Lalu aku berdiri dan menghadap Karyo yang sebelumnya aku duduk membelakanginya. Aku tersenyum yang terlihat sangat ikhlas. Mas Karyo pun terlihat bahagia dengan raut wajahku seolah mengiyakan permintaannya.
"Mas, jika itu permintaanmu, aku ikhlas." Jawabku dengan penuh lapang dada. Lalu aku memeluknya.
"Terimakasih ya, sayang. Aku janji, aku akan berlaku adil untuk kalian."
Setelah beberapa saat, aku melepaskan pelukanku dari tubuh kurusnya. Aku pandang wajahnya. Wajah tirus yang seminggu yang lalu ditimbang dengan berat badannya 56 kg, kumis tipis mirip ikan lele, dan jumlah jenggot yang tidak lebih dari jumlah jari tangan.
Aku pegang pundak kanannya dengan tangan kiriku, dan tangan kananku mengepal.
"Buggkkk!!"
Seketika Karyo memiringkan tubuhnya ke kiri menandakan rusuk kirinya kesakitan. Aku jambak rambutnya yang agak panjang dengan tangan kiriku, dan sekali lagi; "Buggkkk!!" Dia menunduk karena ulu hatinya terkena bogem mentah dari istrinya yang anggun.
"Aduuuuh, maaa..... Saaakiiit..."
Rintihnya menahan kesakitan di bagian tubuh ringkih.
"Karyo bin Boniran, kamu sadar ga apa yang akan kamu lakukan? Kamu akan menikah lagi!" Bentakku sambil menjambak rambutnya agar dia berdiri tegak di hadapanku.
Dengan mata melotot, aku berbicara agak keras di wajahnya. "Sunnah katamu? Sholat Dhuha saja jarang-jarang, bahkan setahun sekali! Itu yang katamu sunnah?! Sholat subuh saja di rumah, jam enam pagi! Itu yang katamu sunnah??!"
Karyo masih merintih kesakitan.
"Hei, Karyo! Gajimu itu hanya 2 juta. Itu pun sering telat dibayar oleh bosmu. Kamu tidak sadar selama ini untuk mencukupi kebutuhan rumah adalah uang dariku!!" Dan tangan kananku mendarat cantik di pipi kirinya, "plakkk!" Bunyi tamparan yang sangat melengking. Pedih pastinya.
Jangankan melawan, menatapku saja Karyo tidak berani.
"Dengar baik-baik ya, Karyo! Gaji pokokku itu empat juta lima ratus, bonus rata-rata dua juta, uang hasil jualan onlen rata-rata sebulan sejuta! Uang melatih taekwondo sejuta lima ratus! Dan itu yang kau bangga-banggakan ke Pak Mansyur?! Jangan mikirin selangkang aja kerjamu! Satu ronde saja sudak ngorok!"
"Buggkk!!" Lutut kananku bercengkrama dengan selangkangannya yang hanya menggunakan kain sarung.
Karyo tersungkur di lantai kamar dengan merintih (mungkin menangis) tepat di hadapan kakiku. Aku angkat kembali tubuh yang merintih kesakitan, aku berdirikan, dan "praaaaankkk!!" Kepala Karyo mendarat indah di kaca meja hiasku.
Dengan memegang kepalanya yang bercucuran saos merah, Karyo meraung menangis sejadi-jadinya.
"Ampuuuun maaa...! Papa khilaaaf...!"
"Makanya, Karyo! Mikir dulu sebelum berbuat! Emang kamu pikir bisa menafkahi istri mudamu dengan gajimu segitu?? Kalau kurang, kamu minta sama aku? Gitu? Jawab!"
Bentakku yang membuat Karyo pipis di celana.
"Enggak, ma... Ampuuuuun.." lalu Karyo terduduk dihadapanku sambil memegang kepalanya.
"Silakan kalau kau mau menikah lagi. Tapi ingat, ini rumahku! Aku membelinya dengan tabunganku. Kau pergi dengan baju di badan, karena semua keperluanmu itu aku yang memenuhi! Selama ini Gajimu itu hanya untuk jajan anak! Camkan itu, Karyo!"
"Karyo, aku bukan perempuan yang di luar sana yang melepaskan suaminya untuk menikah lagi, dan menangis meraung-raung! Mengadu ke sana kemari, curhat sama dinding! Bukan, Karyo!"
Setelah beberapa saat ibaku, sayangku sebagai istrinya muncul kembali. Aku angkat tubuhnya dan aku peluk. Tangisan sejadi-jadinya membuat kedua anakku mengetuk pintu kamar kami. Tidak lama kemudian, Karyo pun kami bawa ke klinik terdekat. [kbm]
Gang Petai, 1-20
Oleh : Panji Nugraha Bin Sujiran
