![]() |
| Ilustrasi Suami menganggur, Istri marah / Net |
Sudah hampir enam bulan Bang Edwin menganggur. Pabrik tekstil tempatnya bekerja mem PHK ribuan karyawan. Ia di PHK tanpa pesangon serupiah pun. Status karyawan kontrak yang menjadi alasan pihak pabrik tidak memberikan pesangon.
Setelah tiga bulan di rumah tanpa pekerjaan, perlahan-lahan tabungan kami menipis. Bayar rumah kontrakan, bayar listrik, bayar sekolah anak-anak dan keperluan makan sehari-hari membuat cadangan uang tabungan yang tidak seberapa mulai terkikis habis.
Kenyataan ini membuat hatiku teriris. Anak-anak sering mengeluh lapar, karena makan mereka aku batasi. Aku adalah ibu dengan 2 orang anak. Anak pertamaku saat ini sekolah kelas 5 SD sedangkan yang ke dua kelas 3, keduanya sekolah di sebuah sekolah SD Negeri. Kini aku sudah tidak mempunyai uang lagi. Bahkan untuk makan pun aku harus pinjam tetangga dan saudara.
Dan yang paling membuatku kecewa, sikap suamiku yang kini berubah. Dia lebih suka tidur dan malas untuk mencari pekerjaan. Sudah berkali-kali aku bilang padanya untuk mencari pekerjaan, meskipun hanya sebagai kuli panggul misalnya, yang penting halal. Namun jawabannya pasti itu-itu saja. Pernah suatu waktu aku ngobrol dengannya.
"Bang, carilah pekerjaan, yang penting halal, yang penting tidak korupsi dan tidak mencuri," kataku ke Bang Edwin sore itu.
"Nantilah Dek, sabar dulu. Aku sedang menunggu kabar baik itu," kata Bang Edwin, yang duduk di lantai rumah kontrakan sambil memeluk lutut.
"Sampai kapan Bang Edwin begini. Abang sudah menganggur enam bulan, tabungan sudah habis. Untuk makan saja aku harus hutang ke tetangga. Aku malu Bang, sering tiap hari aku menahan lapar, begitu juga anak-anak. Kasihan mereka Bang," suaraku lirih, sambil menahan air mata agar tidak tumpah.
"Iya aku tahu, aku juga lapar Dek. Aku mohon kamu bersabar, tunggu kabar baik itu, pasti sebentar lagi dia akan datang," jawab Bang Edwin.
Selalu seperti itu jawabannya. Tunggu, tunggu dan tunggu itu jawaban yang aku terima. Sabar, sabar dan sabar entah sampai kapan aku harus bersabar.
"Bang Edwin nungguin apa? Warisan? Undian? Apa nunggu dapat togel?" sergahku. Tak habis pikir dengan kelakuannya yang semakin cuek kepadaku dan juga kepada anak-anak.
"Ada yang aku tunggu Dek, nanti kalau itu sudah turun kamu dan anak-anak pasti tidak kelaparan lagi," jawabnya tenang.
"Iya, tapi kamu tuh nugguin apa sih Bang? Jawabnya pasti begitu, sabar, sabar. Tapi sampai kapan aku harus bersabar?" jawabku.
"Aku menunggu turunnya Kartu Pengangguran yang sudah dijanjikannya," ucapnya pelan.
Mataku melotot. Ada orang kelaparan disuruh nungguin kartu. Hah!!.
"Ok .... baiklah. Aku juga harus menunggu Kartu Selalu Sabar," jawabku dengan nada emosi.
Lalu aku sodorkan kopi hitam beraroma sianida yang sudah ku persiapkan. Khusus untuknya hari ini.
Saatnya ganti suami !! [kbm]
**********
Jangan percaya janji-janji, karena ia sering manis di awal tapi pahit di akhirnya.
#fiksigariskeras
Oleh : Poerwa Ananta
