Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Suami Pembentak (Part 1)

Ilustrasi Suami bentak Istri
Ilustrasi Suami bentak Istri / Net

Sore ini kami bertiga sampai di sebuah Hotel. Pekerjaan suami yang membawaku dan buah hati sering keluar kota untuk mendampinginya. Kali ini kami pergi ke kota Surabaya. Langkah kami terhenti ketika berada di depan counter 2 resepsionis cantik.

"Ada yang bisa kami bantu Pak, Bu ..." begitulah salah satu petugas yang nametagnya bernama Sari, bertanya kepadaku dan suami.

"Saya sudah pesan atas nama Dika, Mbak. Bisa cek-in sekarang?" tanya balik suamiku.

"Sebentar ya pak Dika, kami cek terlebih dahulu." sahutnya.

"Iya Mbak."

"Pak Dika, maaf ... tapi masih sekitar satu jam lagi bapak bisa cek-in, kami siapkan dulu kamarnya ya, Pak ..."

"Aduuuhhh. Lama ya mbak." protesnya.

"Silahkan duduk dulu di ruang tunggu ya, Pak." tutur mbak Sari.

Kami akhirnya menyerah dan mencari sudut ruang tunggu hotel itu. Muka kesal suamiku terlihat jelas di sorot mataku. Mungkin ia merasa jengkel karena datang lebih awal, padahal perjalanan kami sudah sangat lama. Ia sepertinya ingin segera merebahkan badannya yang lelah. Tapi ini semua diluar kehendaknya.

Ku lihat ada beberapa orang sedang menunggui seperti kami. Lumayan ramai sekali hotel ini, pikirku. Aku duduk di salah satu kursi, kebetulan anakku yang baru berusia 7 bulan sedang tertidur pulas, jadi ku gendong dengan hati-hati. Tidak ada niatan suamiku untuk menggantikanku sepertinya, akupun duduk, beristirahat. Dika masih berdiri di dekatku.

"Kamu ini gimana sih Ma, bikin Papa nunggu aja. Tau nggak sih kalau papa ini lelah sekali. Ngrepotin aja!" bentak suamiku kepadaku. Semua orang di sekitar kami ikut melarikan bola matanya ke arahku.

"Kan Mama enggak tahu kalau datang lebih awal dari jam cek-in, Pa." jelasku.

"Nggak tahu gimana? Kan kamu udah sering ku ajak pergi, harusnya kamu tahu dong, Ma! Dasar tolol!" amarahnya begitu meluap-luap. Bagaimana bisa aku menjawabnya, saking malunya kini air mataku tumpah. Disaksikan berpasang-pasang mata yang entah siapa mereka, aku tak kenal.

"Udah salah, nangis lagi! Istri cengeng!" Ungkap Dika seperti kurang puas dengan caciannya.

Aku hanya terdiam, menunggu air mataku berhenti dengan sendirinya. Sementara rasa maluku sudah ku timbun dalam-dalam. "Ini bukan kali pertama, aku bahkan sudah sangat terbiasa." gumamku.

Kania, putriku terbangun. Ia selalu menangis jika melihat banyak orang yang menurutnya asing, jadi aku pergi mengamankan keberadaan Kania dari pandangan orang-orang, sehingga ia tidak lagi menangis. Kuajak Kania pergi bermain di sebuah taman hotel yang terpasang sebuah air mancur. Kania tampak bahagia. Aku ikut tersenyum.

Perutku yang lapar, aku tahan. "Aku sedang menyusui, harusnya jam segini sudah makan." batinku. Dika tiba-tiba datang menghampiri keberadaan kami. Mulutnya seperti habis menyantap makanan, Iapun bersendawa.

"Alhamdulillah ..." tuturnya setelah sendawa.

Aku yang masih kesal hanya terdiam. Tak berkata apapun.

"Kaniaaa, sedang apa, Nak?"

"Kaniaaa sayang, lihat Papa dong."

"Kania, serius amat ...."

Kania tampak cuek, ia masih serius melihat sekitar. Dika bosan lalu pergi ke arah ruang tunggu tadi. Tidak ada sama sekali niatannya untuk menggantikanku menggendong anak kami, Kania.

Akhirnya kami bisa cek-in. Segera aku berjalan menuju kamar yang telah suamiku pesan. Ku pencet nomor untuk order makanan yang tertera di sebuah kertas dekat gagang telephone.

"Aku lelah, mau tidur!" ungkap Dika kasar.

"Aku lapar ... Kania bagaimana?" tanyaku.

"Ya sudah taro saja sini. Gitu aja repot!" jawabnya judes.

Aku menunggu makanan sambil mengajak Kania bercanda. Dika sudah terlelap rupanya. Mendengar suara seseorang ketok-ketok dibalik pintu, akupun membukanya.

"Ini pesanannya Buk," tutur mas yang mengantarkan pesanan makananku. Aku menghampiri sambil menggendong Kania putriku.

"Iya, taruh saja di meja sana ya, Mas" jawabku mengarahkan.

"Baik, Bu." laki-laki muda itu meletakkan pesanannku di meja dekat TV.

"Kamu ini gimana sih Ren! Suamimu lagi tidur brisik saja!"

Suara keras suamiku mengagetkanku dan laki-laki pengantar pesanan. Padahal aku sudah berusaha menjawab dengan pelan supaya tidak terdengar oleh suamiku. Tapi dia tetap terbangun. Laki-laki itu secepat kilat pamit dari hadapanku. Aku mematung. Entah makanan itu akan tertelan atau tidak? Rasa laparku tiba-tiba hilang.

Apakah rasa maluku hilang setelah laki-laki itu pergi? Tidak! Sakit itu masih bersarang di hatiku. Seperti bentakan demi bentakan yang suamiku lontarkan sejak 4 tahun pernikahan kita.

Tidak hanya saat kami berdua atau bertiga, Tapi selalu di depan umum. Ia tidak bisa menunggu untuk membentakku ketika tidak ada orang lain di samping kita. Ia tidak bisa menunggu seperti itu. Bahkan pernah, anakku Kania yang masih bayi ikut menangis kaget mendengar bentakan dari Papanya. Papa yang kelak akan jadi sandaran hidupnya saat dewasa. [kbm]

#Kisah_Nyata milik seorang teman.

Oleh : Evyena Que

Getting Info...

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.