Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Suami Pembentak (Part 2)

Ilustrasi Mendidik Anak
Ilustrasi Mendidik Anak / Net

Kalian ingat, bagaimana cara orang tua mendidik kalian semasa kecil? Kalian ingat, Bagaimana hal-hal menyakitkan yang pernah kalian dapatkan sewaktu kecil? Akan ku tuangkan dalam kisah ini. Cerita tentang perilaku salah orang tua terhadap anaknya sehingga berdampak kepada watak seorang Dika ketika sudah dewasa.

Panggil aku Rena. Gadis yang sudah dinikahi seorang pria bernama Dika. Sekarang kami telah dianugerahi seorang putri cantik jelita bernama Kania. Kehadiran sosok mungil Kania ternyata tak bisa merubah watak suamiku. Ia tetap keras kepala, bahkan selalu menginjak-injak harga diriku di depan umum.

Perilaku dan wataknya tidak nampak saat kita masih pacaran. Lama kami saling mengenal satu sama lain, mungkin sekitar 3 tahun. Selama itulah sifatnya tertutup oleh sikap baiknya. Aku mengetahui semua keburukan setelah menikah dengannya. Ia seorang lelaki kasar verbal, selalu menyalahkan orang lain dan tidak pernah menghargai pendapat orang lain, apalagi untuk sekedar meminta maaf!

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Seminggu kami bertiga berada di surabaya. Beruntung biaya transportasi dan tempat tinggal ditanggung oleh kantor suamiku. Jadi kami hanya memikirkan biaya makan dan kebutuhan pribadi lainnya.

"Besok kita pulang ke Jakarta naik bis aja ya, Ma?"

"Loh, naik kereta saja, Pa ..."

"Bis aja. Mana cukup buat beli tiket kereta."

"Ya Allah. Kasihan Kania Pa. Kalau rewel gimana?"

"Terus gimana? Uangku tak cukup untuk membeli tiket kereta." ungkapnya.

Lagi-lagi aku harus meminta tolong kepada orang tuaku untuk membantu finansial keluarga. Apalagi pas tanggal tua begini, kehabisan uang sudah biasa.

"Yaudah, demi Kania, Mama akan carikan ongkos untuk beli tiket kereta." jawabku ragu.

"Yasudah. Kita naik kereta." pungkasnya sambil jemarinya memainkan layar handphone.

"Kamu bukan orang kaya, tapi sikapmu melangit dan semena-mena" batinku.

Akhirnya tiket keretapun ku beli. Agar sisa pinjaman cukup untuk hidup beberapa hari lagi sebelum Dika gajian, akupun memesan tiket kelas ekonomi. Setidaknya Kania masih senang ketika naik Kereta. Dan stasiun juga dekat dengan rumah kami. Kalau naik bis, meskipun dengan lewat jalan tol lumayan mempercepat perjalanan, entah kenapa Kania selalu rewel jika naik bis. Ujungnya aku juga yang repot bukan Dika.

"Kamu pesan tiket kelas Ekonomi, Ren?" tanya Dika dengan suara lantang.

"Iya. Karena uangnya biar cukup."

"Biar cukup gimana? Kan aku nggak sudi naik kelas Ekonomi, kamu kan tahu itu, Rena!" bentaknya sambil menggebrak meja.

"Astaghfirullah! Bisa nggak kamu tu nggak kasar sama aku Dika! Kamu sudah keterlaluan. Tanyakan sama semua wanita di dunia ini! Siapa yang enggak mau naik alat transportasi kelas prioritas atau setidaknya kelas satu? Siapa coba? Akupun ingin naik kereta kelas prioritas! Tapi mana uangmu?" jawabku tak mampu lagi menahan emosi.

"Sialan kamu Ren. Baru bisa nyari uang hasil ngutang saja berani sama suami!" balasnya.

"Gimana? Harga dirimu terluka kan di gituin? SAMA! Harga diriku juga sering kamu injak-injak tanpa kamu sadari!"

"Dasar Istri kurang bersyukur!"

"Kamu itu yang kurang syukur. Jangan bergaya tidak sesuai kemampuan. Kenyataannya kita sedang kekurangan kok, kenapa musti malu naik ekonomi?"

"Capek ngomong sama kamu!"

"Lebih capek lagi kalau dibentak sama lelaki di depan umum dan itu suami sendiri!"

Dika terdiam, tidak membalas sepatah katapun. Kania sedang tertidur pulas. Aku sengaja tidak pernah membalas perkataan suamiku di depan anak perempuanku. Karena aku tidak ingin perseteruan semakin panjang dan disaksikan oleh putri semata wayang. Apalagi perdebatan di depan umum yang aku sudah ketahui jawabannya bahwa Dika tidak akan pernah mau mengalah untukku.

Meski masih kecil, memory anakku pasti mampu menangkap segala yang ada di sekitar. Termasuk pertengkaran kedua orang tuanya. Aku tidak akan menjadi Mama yang egois, sehingga menciptakan trauma dimasa mendatang baginya. Aku juga tidak mau seperti Dika, yang terjebak dalam memory masa lalunya. Aku seringkali mengalah untuk hal itu. Tapi tidak selamanya aku akan mengalah. Ada saatnya aku harus luruskan segala yang salah pada Dika.

Kelak ketika Kania beranjak dewasa dan sikap Dika belum banyak berubah, Anggap saja Dika sedang sakit dan aku akan mengobatinya. Bahkan aku sendiri yang akan menjelaskan kepada Kania tentang masa kecil seperti apa yang sebenarnya pernah dialami oleh Papanya.

"Kania Larasati ... Kamu harus menjadi wanita yang baik ya, Nak. Mama tidak akan merusak Inner Childmu." gumamku dalam hati.

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Kami pulang ke Jakarta dengan menggunakan kereta kelas Ekonomi. Kania sangat bahagia menikmati perjalanan ini. Aku turut senang. Ada bibir yang manyun sedari tadi. Bibir milik suamiku Dika. Aku hanya tersenyum kecil saat menatap ekspresi ketidaksukaannya.

"Terimakasih ya, Pa ... Mau mengalah demi Kania." tuturku senang.

"Heeemmmm," jawabnya singkat.

"Teyimakasih Papa, Kania senang sekali naik keyeta," mulutku menirukan gaya seolah Kania sedang berbicara kepada Papanya. Dika merebutnya dariku.

"Sama-sama sayang. I love you ..."

Aku tahu jawaban itu untukku, tapi pura-pura ia lontarkan kepada Kania. Aku tahu betul siapa Dika? Bagaimana dia? Yaa ... Hanya aku. Hanya istri yang mengetahui tabiat baik buruknya suami.

Setelah sekitar 11 jam lebih, akhirnya kami sampai di Stasiun Pasar Senen Jakarta. Ada kedua orang tuaku di dekat pintu keluar. Aku tahu betul bagaimana perasaan Dika? Ibunya tidak ikut menjemput kami. Mungkin ada rasa iri menggumpal di dalam hatinya.

"Tidak mengapa, Pa, mungkin ibu sedang sibuk." kataku pelan.

"Iya, Ma."

Mengingat Ibu Dika, membuatku meneteskan air mata. Aku ingat tentang pesan almarhum Bapaknya, ingat akan nasehatnya, ingat akan cerita kelam di masa lalu Dika.

"Titip Dika ya, Ren ..." pesan bapak mertua kepadaku.

"Kenapa titip Pak?"

"Jangan tinggalkan dia. Sembuhkan dari penyakit semasa kecilnya. Didikan ibunya terlalu buruk sehingga merubah watak Dika seperti yang kamu tahu sekarang."

"Maksud Bapak apa?" tanyaku bingung.

"Lihatlah bekas luka di kaki Dika, itu luka bekas pukulan kayu Ibunya. Lihat cara dia susah meminta maaf dan berterimakasih kepada orang lain, karena Ibunya juga melakukan hal yang sama."

"Ya Allah, Pak ..."

Aku ingat betul waktu itu aku menangis, membayangkan betapa Dika kecil sangat tersiksa. Belenggu itu yang kini ada di dalam tubuhnya.

"Jaga Dika ya Ren, bapak percaya, kamu bisa sedikit demi sedikit mengobatinya."

"InsyaAllah ya Pak. Rena akan berjuang semampu Rena."

Gendongan Kania direbut oleh Ibuku, Membuatku tersadar dari lamunan. Kini ada Dika disebelahku, duduk di kursi mobil yang sama. Ku senderkan kepalaku di pundaknya.

"Aku akan terus berusaha mengobati lukamu, Pa. Luka yang terbentuk saat masa kecilmu dulu." gumamku dalam hati.

🌿🌿🌿🌿🌿🌿

"Inner Child" adalah bagian dalam diri seseorang yang merupakan hasil dari pengalaman masa kecilnya. Ia melekat dalam alam bawah sadar seorang yang sudah dewasa. Ini tentang pengalaman baik dan buruk. Luka masa kecil di dalam hati yang belum sembuh, atau efek pola asuh yang salah dari orang tua bisa mempengaruhi terbentuknya pribadi seseorang. [kbm]

Oleh : Evyena Que

Getting Info...

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.