![]() |
| Ilustrasi Proses belajar mengajar Sekolah Dasar / Net |
Ibu guru fisika sedang mengajarkan kepada murid-murid tentang reaksi alkohol terhadap kehidupan.
Dengan memberikan sebuah contoh yang dengan harapan murid-muridnya bisa memahami betapa bahayanya bahan kimia bernama alkohol.
Suasana Kelas 5C, Sekolah Dasar Dusun Biawak menjadi hening seketika. Ibu guru mulai melakukan presentasi sebelum murid memberikan kesimpulan hasil dari presentasi sang guru.
Pertama-tama ibu guru menyediakan tiga gelas transparan yang masih kosong di atas meja.
Masing-masing gelas di beri abjad, A,B dan C.
Kemudian Ibu guru mengeluarkan tiga botol berisi cairan mengandungi alkohol. Ukuran botol kurang lebih seukuran botol jenis miras murahan yang banyak di jual di warung pinggir jalan yang telah di label ulang dengan spidol bertuliskan, "ALKOHOL".
Tulisan "ALKOHOL" sengaja di perlihatkan kepada murid-murid agar bisa mencatat setiap detail karena nantinya akan di soal ibu guru.
Ketiga botol tersebut mempunyai perbedaan selain tulisan "ALKOHOL".
Yang pertama berulisan, "50%".
Yang kedua bertulisan, "70%"
Dan yang ketiga bertulisan, "90%".
Murid-murud Kelas 5C, Sekolah Dasar Dusun Biawak begitu serius menyimak dan menulis catatan dibuku tulis tindakan yang di lakukan dalam presentasi ibu guru.
Karena satu sekolah SD Dusun Biawak tau betul, guru ini terkenal tegas dan cukup disiplin tanpa toleransi. Kalau salah pasti kena hukuman.
Lalu Ibu guru menuangkan cairan berisi alkohol pada masing-masing gelas.
Gelas A, di tuangkan cairan alkohol 50%, gelas B, di tuangkan cairan alkohol 70% dan gelas C, di tuangkan cairan alkohol 90%.
Setelah itu, Ibu guru mengeluarkan sebuah kantong plastik berisi 3 ekor cacing. Kira-kira ukuran tiap cacing sebesar jari kelingking bayi manusia berusia tiga bulan.
Cukup lumayan untuk ukuran seekor cacing yang panjang 5-6 sentimeter +/- .
Lalu ibu guru memasukan tiap-tiap cacing kedalam masing-masing gelas yang telah mengandungi cairan alkohol tersebut.
Setelah cacing-cacing itu dimasukan ke dalam gelas, terjadilah semacam perlawanan sehingga cacing-cacing yang telah terendam cairan alkohol itu menggeliat seakan terbakar.
Makanya kalau ada orang krasak-krusuk atau dengab kata lain, 'ga bisa diam', bisa di istilahkan dalam bahasa Indonesia "seperti cacing kepanasan".
Setelah itu ibu guru memberikan waktu sekitar 10 menit agar murid-murid melihat reaksi-reaksi cacing yang terendam dalam gelas berisi cairan alkohol tersebut.
Saking seriusnya para murid ingin melihat lansung dari dekat dan meminta ijin Ibu guru untuk bagun dari tempat duduk dan maju ke depan dekat meja dimana presentasi Ibu guru lakukan.
Ibu guru tidak keberatan dan mengizinkanya asal jangan di sentuh apapun hanya melihat saja.
Maka sekelip mata, hampir semua murid kelas 5C maju kedepan dan mengelilingi meja presentasi Ibu gurunya.
Namun agak jauh dalam kelas tersebut, tepatnya meja paling pojok paling belakang seorang murid tidak antusias sama sekali seperti teman-teman sekelasnya yang lain.
Dia hanya hanya duduk sambil menulis-menulis seakan mencorat-coret saja di buku tulisnya dalam waktu yang sama telunjuk tangan kirinya mengupil lubang hidung bersahaja dan sesekali bersiul kecil tanpa beban.
Murid itu adalah "Ucop", atau lengkapnya Ucop Bin Baba.
Penampilan tidak beda sama murid lain. Namun dari gaya dan tingkah-lakunya, anak ini setiap hari ke sekolah seakan tanpa beban. Cukup bersahaja dan santai.
Baik itu waktu pagi, baru masuk sekolah, jam keluar istirahat, dalam kelas, bahkan pernah di suruh guru membersihkan WC akibat Ucop datang telat satu jam, dia tetap santai dan tidak merasa itu masalah besar.
Guru-guru lain di Sekolah SD Dusun Biawak cukup kenal dengan sifat murid mereka yang satu ini. Meski selalu lalai dalam banyak hal, Pekerjaan Rumah misalnya, meski tidak begitu cerdas tetap selesai di kerjakan oleh Ucop walau banyak yang salah dari yang benar mengikut standar pembelajaran.
Melakukan kesalahan berkali-kali dan kena hukum setiap kesalahan, mulai dari berdiri di atas bangku, mejunjung bangku selama satu jam, bersihkan WC, di hukum lari keliling sekolah 20 putaran tetap di jalani Ucop. Namun Ucop tetap Ucop, santai, dan tidak merasa terbebani.
Dari bisik-bisik tetangga Dusun Biawak mengatakan Ucop jadi begitu karena waktu lahir ada kejadian langka.
Ketika Ucop lahir ke dunia, waktu itu sedang terjadi Gerhana Matahari. Dan waktu kelahiran Ucop pas pada detik-detik puncak waktu gerhana dan keadaan sekeliling gelap-gulita.
Entah apa sangkut paut sifat Ucop sama kejadian waktu kelahiran tidak ada yang bisa menjelaskan. Yang jelas Ucop anak yang baik dan tidak merepotkan orang tuanya dan warga sekitar.
Justru sifatnya itulah banyak membuat warga Dusun Biawak senang karena Ucop tidak pernah membuat masalah besar bahkan tidak nakal seperti anak lain yang kadang suka berantam dan lari-larian sana-sini.
Next...
Ibu fisika yang melihat reaksi muridnya seperti itu, ibu guru merasa heran bertanya kepada kepada Ucop.
"Ucop, kamu tidak mau mengamati presentasi dari Ibu? Nanti kalau ibu tanya soal kamu bisa tidak menjawabnya, bagaimana?"
Tanya Ibu guru berjalan menghampiri meja Ucop yang terpojok paling belakang.
"Bisa bu...!"
Jawab Ucop singkat.
"Ah.. yang benar saja kamu Ucop? Awas ya... Nanti kalau ibu soal dan kamu harus bisa menjawab dan bisa menjelaskannya kenapa alasanya atas jawab tersebut atau kena hukuman lho...."
Kali ini ibu guru sudah berdiri tepat di depan meja Ucop sambil berpeluk tubuh seakan memberikan ancaman kecil kepada Ucop.
"Tenang bu... Ucop kan sudah ahli yang beginian....!"
Jawab Ucop santai namun sedikit girang karena baginya itu sangat mudah dan seakan terlihat sudah bisa menjabarkanya.
Mendengar jawaban Ucop seperti itu Ibu guru hanya mengangguk-anggukan kepala dengan bibir bawah sedikit di juihkan keluar seakan menerima keyakinan Ucop yang begitu yakin.
Namum jauh di libuk hati paling dalam Ibu guru tidak yakin bahkan meragukannya.
Sambil berjalan kembali ke depan kelas meninggalkan Ucop dengan keyakinannya sambil melihat murid yang lain masih sibuk menulis-nulis sambil melihat reaksi cacing-cacing yang tenggelam dalam cairan alkohol.
Next...
Sepuluh menit telah berlalu, maka murid yang sedari tadi masih antusias akhirnya di minta oleh ibu guru kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Baik anak-anak, sudah sepuluh menit, sekarang kembali ke tempat duduk masing-masing ya...!"
Perintah Ibu guru kepada para murid kelas 5C tersebut. Sesekali Ibu guru melirik cacing-cacing tenggelam dalam gelas berisi alkohol dengan persentase kualitas alkohol yang berbeda kadarnya.
"Baiklah anak-anak, Ibu minta kalian semua menuliskan semua yang ibu presentasikan tadi mulai dari penyediaan alat dan materinya, sampai kepada kesimpulannya. Akhir dari tulisan kalian harus memberikan alasan dari setiap kesimpulan kalian terhadap presentasi tersebut...."
Perintah Ibu guru dengan tegas dan lantang.
"Baik buuu... "
Jawab murid kelas 5C tersebut secara serempak.
"Minggu depan ibu mau semua buku tulis mengenai presentasi hari ini sudah ada di meja ibu ya. Jangan ada yang bolos! Karena waktu satu minggu cukup untuk kalian mempelajarinya. Bisa bertanya kepada orang tua atau orang lain jika masih bingung ya..."
Tambah Ibu guru cukup panjang.
"Baik buuu.... "
Jawab murid-murid kembali.
Next...
Namun ibu guru tak sabar menunggu sampai minggu depan karena masih penasaran sama sikap Ucop yang santai tanpa beban.
Lalu ibu guru menambahkan,
"Oh ya, kesimpulan lengkapnya di tuliskan di buku menjadi PR seperti yang ibu bilang tadi, tapi ibu tambah waktu 15 menit lagi untuk ibu tanyakan kesimpulan singkat pada kalian...."
Ibu guru menjelaskan...
"Kalau udah jadi PR tentu kalian sudah dapat banyak bocoran dari orang di luar sana..., Jadi sebelum itu, ibu ingin luangkan waktu 15 menit untuk ibu tanyakan satu persatu dari kalian sebelum bertanya kepada orang lain untuk PR nya.. Cukup kesimpulan singkat saja..."
Panjang lebar ibu guru menjelaskan.
"Baiklah ibu mulai dari meja paling depan sebelah kanan ke kiri, lanjut meja belakangnya sebelah kiri ke kanan ya...? Di mulai dari kamu Mira..."
Sambung Ibu guru dan lansung menunjuki murid meja paling depan yaitu Mira.
Mira adalah murid perempuan terkenal cerdas di kelasnya. Tadinya Mira berada di kelas 5A, namun karena guru-guru inginkan metode,
" Education is Not Competition! Education is a Collaboration...!"
maka mira di gabungkan dengan murid yang berada di kelas C agar kekecerdasan Mira bisa menulari murid kelas C yang rapornya di bawah rata-rata.
"Alkohol adalah bahan kimia berbahaya kepada kehidupan. Baik itu kepada manusia juga pada binantang. Semakin tinggi kadar alkohol maka semakin berbahaya kepada kehidupan... "
Jawab Mira lugas dan jelas.
Ibu guru mengangguk-anguk kecil tanda setuju sama kesimpulan singkat Mira.
Lalu Ibu guru lansung menunjuk murid yang berada sebelah kiri setelah Mira.
"Pudin, sekarang kamu..!"
Pinta Ibu guru cepat.
"Alkohol cairan berbahaya. Kalau di minum bisa memabukan. Dan itu hukumnya Haram. Bukan cuma haram buat manusia, tapi haram buat hewan juga. Maka jauihlah alkohol..."
Pudin menjelaskan kesimpulan sesuai pemahamanya. Dan ibu guru tidak bisa menolak meski tidak begitu ilmiah seperti penjelasan Mira. Namun begitu Ibu guru cukup maklum meski jawaban Pudin kurang tetap namun masih ada benarnya.
"Selanjutnya kamu, Edo!"
Sama seperti Mira dan Pudin, mereka menjawab hampir sama semuanya.
Rata-rata menganggap alkohol adalah berbahaya, memabukan, bisa menyebabkan kebakaran, tidak baik untuk kulit dan bisa iritasi dan sebagainya. Sesuai untuk pemahaman anak kelas 5C.
Ibu guru cukup bisa menerima kesimpulan demi kesimpulan yang telah di huraikan hampir semua anak-anak kelas 5C yang di ajarkanya.
Semua punya pemahaman tersendiri terhadap alkohol dan bagaimana menghindari atau tidak mendekati alkohol karena itu sebuah cairan kimia yang termasuk berbahaya jika di salah gunakan.
Alkohol yang dalam rumus kimia tulis sebagai C2H5OH juga di sebut etanol dan termasuk dalam Klasifikasi UE sebagai "Mudah terbakar" dengan simbol (F).
Jika di dalam masyarakat yang awam, jika menyebut kata "alkohol" hal pertama yang terbayang adakah minuman keras.
Apalagi sekelas anak SD kelas 5 yang tinggal di Dusun Biawak.
Next....
Setelah hampir semua murid-murid menjabarkan kesimpulan singkat dengan bermacam-macam pemahaman yang mampu di tolerasi oleh ibu guru, kini sampailah giliran Ucup paling pojok belakang sebelah kiri sekaligus murid paling terakhir.
Bukan hanya terakhir, juga antara murid yang membuat guru penasaran akan setiap "kesantaianya".
"Sekarang kamu Ucop bin Baba!"
Pinta ibu guru kepada Ucop tidak sabar.
"Tapi ibu tidak mau kamu menjawab di meja kamu di situ . Ibu mau kamu berdiri di depan sini dan menjabarkan kepada ibu dan teman-temab kamu yang lain mengenai kesimpulan yang kamu fahami atas presentasi ibu tadi...!"
Jelas ibu guru.
Ucop hanya menganggukan kepala dan sedikit senyum sinis beraroma bangga sedikit sambil berjalan santai menuju ke depan kelas tepat di antara meja murid paling depan di tengah dan ibu guru yang berdiri di belakang Ucop dekat dengan papan tulis.
Sebelum menjelaskan kesimpulanya, tak lupa Ucop melihat kebelakang menatap ibu guru seakan meminta isyarat apakah sudah bisa di mulai.
Ibu guru yang sebenarnya juga tidak sabar cepat-cepat menganggukan kepala tanda isyarat mempersilahkan kepada Ucop agar segera memulai kesimpulan.
Dan ibu guru pun mulai menahan-nahan nafas begitu juga murid teman-teman Ucop menunggu penjelasan Ucop...
"Baiklah Ibu guru yang saya hormati dan saya sayangi...."
Menoleh sedikit ke arah Ibu guru yang mulai memaku diri seakan menahan nafas dan mengngguk ragu-ragu.
".... juga kepada teman-teman sekelas 5C yang saya hormati di SD Dusum Biawak, yang harmonis lagi penuh berkah dan rahmat ini...."
Mukadimah Ucop cukup bagus dan tertata bahasa karena Ucop suka mendengar pidato dimana-mana.
Baik di TV rumah tetangga, di masjid, di rumah hajatan, sampai acara pemakaman warga. Ucup juga suka mengikuti pidato-pidato penjual obat kuat di pasar ketika mengikuti emaknya berbelanja.
Jadi bagi Ucop, sekedar mukadimah udah hafal di luar kepala. Intonasi yang di gunakan juga seperti intonasi para Ustadz yang lagi ceramah di televisi-televisi.
".... Dari hasil pengamatan saya yang sudah saya fahami dengan sangat matang dan penuh kesadaran tanpa unsur paksaan...,"
Ucop menahan koma untuk melihat reaksi audiens yang serius mendengarkanya 'berpidato'. Laku melanjutkan,
"....bahwa setelah saya amati pada ketiga gelas yang telah di isi oleh ibu guru dengan cairan bernama alkohol, di mana masing-masing gelas mengandungi alkohol dengan kadar presentase yang berbeda-berbeda...."
Ucop mulai serius dan lugas menjelaskan.
"Setiap gelas memiliki kadar alkohol yang berbeda-beda meski jumlah kuantitas cairannya sama-sama satu gelas, tapi kadar alkohol berbeda membuatkan saya meliat reaksi dari cacing-cacing tersebut akibat efek alkohol...."
Tegas dan tertata Ucop menjelaskan membuat guru yang sedari tadi hanya berpangku tangan tidak yakin, mulai meleraikan pangkuan tangan pada tubuhnya dan mulai pelahan melangkah lebih dekat di belakang Ucop yang sedang menyampaikan kesimpulan dengan penuh wibawa.
".... Mari kita lihat gelas bertanda 'A' ini..."
Ucop mengambil gelas yang label "A" lalu mengangkatnya di hadapan teman-temanya.
Memegang gelas yang masih berisi cairan alkohol dan seekor cacing lalu melanjutkan,
"Gelas 'A' ini telah di isi oleh ibu guru dengan alkohol dengan presentase 50%, sementara gelas 'B', di isi dengan alkohol dengan presentase 70% dan berikutnya gelas C, mengandungi alkohol dengan presentase 90%...."
Semakin serius Ucop menjelaskan semakin serius pula teman-teman sekelas Ucop di lokal 5C itu menyimak.
Bahkan lebih serius menyimak Ucop ketimbang menyimak presentasi ibu guru tadi.
Mira yang terkenal cerdas saja ikut mengangguk-anggukan kepala tanda setuju kepada Ucop karena dia juga melihat dari dekat perbedaan presentase alkohol yang di tuangkan ibu guru dan ibu guru juga sudah menjelaskan sebelumnya.
Ibu guru yang berdiri tepat di belakang Ucop juga manggut-manggut memberi isyarat dan setuju penjelasan Ucop yang tertahan itu.
Bahkan saking kagumnya ibu guru pada setengah kesimpulan Ucop, membuat agak sedikit merinding bulu kuduknya karena hampir tidak percaya anak Kelas 5 SD bisa menjabarkan dengam begitu rapinya seakan sedang berhujah di dalam forum Sains yang di hadiri oleh banyak saintis dan dokter ahli.
"... Nah setelah mengetahui presentase kandungan alkohol dari ketiga gelas itu, saya lansung melihat pada sebuah reaksi...."
Ucop mulai semakin serius dan seisi kelas hening ketika Ucop menahan ucapanya.
"..... Saya melihat reaksi cacing-cacing itu.... ! Lihat bagaimana reaksi mereka terhadap kerasnya cairan alkohol tersebut...."
Lanjut Ucop.
"Di gelas A yang mengandungi 50% kandungan alkohol itu, sekarang lihat cacingnya masih aktif bergerak-bergerak...!
Sementara di gelas B, yang mengandungi 70% alkohol sudah melemah dan di perkirakan sebentar lagi akan mati...!?
Lalu gelas C, dengan presentase alkohol 90%, saya amati bahwa cacing itu telah mati beberapa menit setelah di masukan ibu guru kedalamnya.... "
Penjelasan Ucop makin panjang dan semakin lengkap.
Ibu guru sedari tadi mulai kagum semakin terhipnotis oleh penyampaian Ucop layaknya pengacara atau saksi ahli di bidang kimia. 'Bangga' itulah terbesit di fikiran ibu guru.
Ucop juga menyampaikan di hadapan teman-teman sekelasnya bukan hanya mulut yang bergerak, bahasa tubuh Ucop dan tanganya juga ikut bergerak-gerak seakan-seakan pemandu acara ketika memandu sebuah pancaragam.
"... Lalu hasil dari pengamatan saya inilah saya akan membuat kesumpulan yang saya cukup yakin sekali.... "
Ucop kembali menahan seakan melihat reaksi kagum dari teman-temannya.
"Kita semua sudah menyaksikan bahwa semakin tinggi kadar alkohol akan semakin berakibat fatal pada cacing tersebut....
Bayangkan saja alkohol dengan presentase 50% tidak mampu membunuh cacing di gelas A. Sampai sekarang masih bergerak dan masih hidup....."
Ucop makin panjang dan serius dan melanjutkan lagi.
".... Jadi dengan alkohol 90% mampu mumbunuh cacing seketika hanya beberapa menit saja....
Bayangkan bagaimana kalau alkohol 100%...?? "
Hujah Ucop agak sedikit meninggikan suaranya yang membuat seisi kelas makin terpana...
Ibu guru yang sudah semakin kagum tidak sabar menunggu puncak kesimpukan Ucop yang layak di sebut pidato.
Penuh kesungguhan, penuh keyakinan bahkan dengan semagat yang berkobar-kobar layak pahlawan kemerdekaan mungkin....?
Lalu Ucop melanjutkan "langkah kaki terakhir pada puncak klimaks" kesimpulanya...,
"Oleh itu saya menganjurkan pada diri saya sendiri, pada teman-teman sekalian, bahkan pada kerabat dan guru-guru di sekolah ini juga....
"PERBANYAKLAH MINUM MINUMAN BERALKOHOL AGAR KITA SEMUA TERBEBAS DARI CACINGAN...!!?
Ibu guru lansung pingsan mendadak, sehingga mulutnya mengeluarkan busa. Murid-murid kelas 5C panik segera memanggil kepala sekolah melihat kejadian Ibu gurunya yang pingsan mendadak tiba-tiba.
Ucop kembali ke mejanya sambil corat-coret buku dan telunjuk tangan kirinya ngupil ke lubang hidung... Sesekali bersiul kecil tanpa dosa.. [kbm]
- The End -
Saipul Bakri
19/01/2020
Kuningan, Jawa Barat
