Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Ojol Horor

Ilustrasi Ojek Online
Ilustrasi Ojek Online / Net

Sudah jam 11 malam ketika aku selesai mengikuti meeting di sebuah hotel di bilangan Cawang Jakarta Timur. Pembahasan yang alot dan berlarut-larut menyebabkan rapat itu selesainya molor dari rencana semula, jam 9 malam.

Inilah yang bikin aku malas mewakili bos meeting. Selesainya selalu larut malam. Tidak nyaman rasanya pulang jika sudah terlalu larut. Buat si bos, sih, tidak masalah. Dia pakai kendaraan sendiri, lengkap dengan drivernya. Sedangkan aku? Mau gak mau harus cari angkutan umum untuk bisa pulang ke rumah kos ku di jalan D.I. Panjaitan, daerah Kebon Nanas sana. Apa daya, namanya anak buah, tidak mungkin menolak perintah bos.

Aku berjalan pelan menuju arah Stasiun Cawang. Cuaca sedikit gerimis. Meskipun langit terlihat gelap berselimut mendung, sepertinya tidak akan sampai turun hujan. Begitu biasanya gerimis di musim kemarau.

Sampai di pintu atas stasiun Cawang, aku duduk di halte yang posisinya persis berada di dekat tangga penghubung antara pintu atas dan pintu bawah Stasiun itu. Melepas penat sejenak setelah berjalan lebih kurang 500 meter tadi.

Jika siang hari, halte itu biasanya sesak oleh abang-abang ojol yang mangkal, menunggu masuknya orderan di hp mereka dari para penumpang commuterline yang baru saja turun di Stasiun Cawang. Namun, karena sudah menjelang tengah malam, saat itu hanya terlihat beberapa orang pengemudi ojol saja yang sedang asik menekuri hp mereka masing-masing sambil sesekali mengepulkan asap rokok.

Dari posisi dudukku saat ini, persis di hadapan halte, terlihat jelas Menara Saidah. Sebuah gedung 27 lantai yang saat ini kosong. Konon kabarnya, gedung itu angker. Banyak kesaksian orang yang katanya di malam hari sering melihat hal-hal aneh di sana.

Konon, tiap tengah malam, pekerja jalan tol sering melihat penampakan perempuan berbaju merah dengan rambut tergerai menutupi wajah mondar mandir di selasar gedung itu. Padahal, gedung itu sudah sejak tahun 2008 tidak lagi berpenghuni.

Pernah pula ada pengemudi ojol yang mengaku pernah mendapat orderan dari seorang perempuan yang minta di jemput di depan gedung itu. Sesampainya di sana, ketika ditelpon oleh si pengemudi ojol, perempuan itu minta ditunggu sebentar, karena katanya dia masih di lantai 15. Padahal, jelas-jelas, Menara Saidah sudah tidak pernah ada yang mengisi lagi sejak 2008. Masak iya ada perempuan di lantai 15 sana?

Suatu ketika pernah tercium oleh orang-orang yang lewat di jalan depan gedung itu, bau sangat busuk menyeruak lewat jendela-jendela kacanya yang pecah. Macam-macam spekulasi yang muncul. Ada yang bilang itu bau bangkai anjing yang mati terjebak dalam gedung itu. Ada yang bilang, itu bau bangkai hewan mati yang dilempar orang iseng ke sana. Dan yang paling ngeri, ada pula yang bilang itu adalah bau bangkai manusia korban pembunuhan yang sengaja dibuang ke sana oleh pelakunya. Bukankah bau bangkai manusia adalah bau paling busuk di muka bumi ini? Apapun, yang pasti tidak ada orang yang mau menelisik ke dalam gedung untuk memastikan sumber bau busuk itu. Sampai akhirnya bau itu hilang sendirinya setelah beberapa lama.

Secara penampakan saat ini, gedung tinggi itu memang terlihat menyeramkan. Bagian depan lobby gedung yang dihiasi pilar-pilar besar ala Romawi memberi kesan ghotic di malam hari. Makin bertambah gloomy terlihat karena kurangnya pencahayaan.

Jika kita tepat berada di bawah gedung itu dan mendongak ke arah puncaknya, serasa melihat gedung horor tempat bermarkasnya para bandit kota dalam film The Raid: Berandal-nya Iko Uwais.

Setelah beberapa menit duduk dan tersentak dari lamunan mengenai Menara Saidah yang misterius, aku berniat segera memesan ojol. Aku keluarkan hp dari saku celana. Aku usapkan jari untuk membuka kunci layarnya. Terlihat waktu sudah pukul 23.40 jelang tengah malam.

Aku segera masuk ke aplikasi transportasi online. Memasukkan titik jemput dan tujuan. Kemudian ambil pilihan sepeda motor. Lanjut dengan memencet "pesan". Pesananku diproses oleh sistem. Tak berapa lama, muncul di layar "pengemudi anda sudah ditemukan". Aku lihat nama dan nomor polisi kendaraannya. Aku cek posisinya. Berdasarkan peta, posisinya di samping Menara Saidah. "Hmm, dekat Saidah posisinya," gumamku. Bisa saja memang posisi persis dia bukan di situ. Karena posisi di GPS biasanya tidak presisi 100 persen dengan rilnya.

Aku perhatikan terus posisinya di map. Belum bergerak-gerak juga dari posisi awalnya sejak orderanku pertama kali dia terima tadi.

Aku tunggu 1 menit, masih belum bergerak juga. Aku edarkan pandangan ke sekitaran halte. Sudah sepi. Sama sekali sudah tidak ada orang di sana selain aku. Beberapa driver ojol yang mangkal di situ tadi sudah jalan semua. Sepertinya mereka juga dapat orderan sejak sebelum aku membuka aplikasi transportasi online beberapa menit yang lalu.

Kembali ku lihat posisi pengemudi ojol pesananku. Juga masih belum bergerak. "Ada apa dengan pengemudi ini?" batinku. Biasanya setelah menerima orderan, para pengemudi ojol akan langsung mengirim pesan pada calon penumpangnya, menyapa, dan meminta untuk menunggu. Tapi pengemudi ini tidak. Dari tadi dia cuma diam. Posisinya pun juga belum bergerak sama sekali terlihat di peta.

Akhirnya, aku yang berinisiatif mengirim pesan. "Mas, kok belum bergerak menuju ke sini? Bisa gak ngantar saya? Kalau memang gak bisa, saya batalkan, ya?" Demikian pesanku. Aku berusaha sopan. Sekian detik berlalu, pesanku dibaca. Terlihat dari dua centangnya yang berubah warna. Aku tunggu balasan dari dia. Tapi tidak kunjung ada balasan.

Selang 1 menit tidak ada balasan, aku berfikir untuk langsung saja memencet tombol "batalkan pesanan". Tapi, kemudian aku berfikir, banyak pengemudi ojol yang marah jika pesanan dibatalkan tanpa dikonfirmasi dulu.

Karena tadi pesanku tidak dibalas, aku akhirnya telpon dia untuk konfirmasi pembatalan pesanan. Aku pencet tombol bergambar gagang telpon, kemudian hp kutempelkan ke telingaku. Terdengar nada sambung. Tak berapa lama, telponku diangkat.

"Halo, Mas", gimana? Bisa, gak, ngantar saya?"

"Bisa", terdengar jawaban pendek dari suara bernada berat.

"Kalau gitu, ayo dong, Mas. Saya udah dari tadi menunggu, nih", lanjutku dengan nada masih berusaha tenang.

"Bisa, gak, kamu sabar dulu?!" Kembali suara berat itu membalas dengan intonasi aneh. Aku mulai tidak nyaman dibuatnya. Aku lirik jam tanganku, 10 menit lagi menuju pukul 12 tengah malam. Masih tidak ada siapa-siapa di situ. Mobil pun tak banyak berlalu lalang. Satu satu yang lewat, itupun ngebut karena jalanan sudah sepi.

"Memangnya, Mas sekarang posisinya dimana?" Aku lanjut bertanya. Tapi suasana hatiku sudah tidak menentu.

"Aku baru saja mengantarkan pesanan daging mentah."

"Ngantar daging mentah? Siapa Mas, yang mesan daging mentah tengah malam begini?" Aku bergidik.

"Perempuan. Tadi dia berbaju merah. Rambutnya panjang tergerai. Daging mentah itu untuk makan dia malam ini, katanya." Suara berat itu terdengar makin aneh, menakutkan.

"Perempuan berbaju merah, rambut panjang terurai?" batinku. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Tenggorokanku seolah tercekat.

Dengan sisa-sisa keberanian, aku lanjutkan bertanya.

"Jadi, sekarang posisi Mas dimana, nih?

"Lantai 9 Menara Saidah!"

Byarrr!!! Aku tersentak. Kaget bukan kepalang. Reflek hp terlempar dari tanganku. Kemudian terhempas keras di trotoar dan tergeletak di pinggir aspal. Tepat jam 12 malam! [kbm]

Oleh : Afri Zon

Getting Info...

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.