"Jadi. Kamu menyukai suamiku?" Aku menemui Sari disebuah rumah makan.
Sari diam. Menunduk. Hampir tidak bisa mengangkat dagunya.
"Kamu jujur saja sama aku. Aku gak akan marah. Aku cuma butuh kejujuranmu. Sejauh apa hubungan kalian" aku buat suaraku setenang dan sesantai mungkin.
"Iya, mbak. Aku suka Mas Fajar. Maaf ya mbak" Sari mulai berbicara.
![]() |
| Ilustrasi / Net |
"Oh tidak. Tidak. Tidak usah minta maaf. Aku cuma butuh kamu bicara jujur. Sejauh mana kamu berhubungan dengan Mas Fajar?" aku tenang dan kalem.
"Hanya chatting di WA aja kok mbak"
"Ohya? Sungguh? Tidak lebih? Ketemuan barangkali? Berciuman?"
"Enggak mbak. Cuma sayang-sayangan di WA. Beberapa kali janjian ketemu tapi selalu gagal".
"Oke. Apa yang membuat kamu menyukai Mas Fajar?"
"Karena postingan-postingan di Facebook mbak Intan"
"Ohya? Kenapa postingan di Facebook ku?"
"Di Facebook Mbak Intan tampak Mbak Intan sama Mas Fajar itu keluarga bahagia dan sempurna. Jujur aku iri, Mbak. Mas Fajar itu baik, tajir, sholeh. Aku ingin punya suami seperti Mas Fajar"
=====
Gila. Sari menyukai suamiku karena postingan-postinganku di Facebook. Yang menggambarkan keluarga ku sebagai keluarga bahagia menurutnya.
Aku buka halaman Facebook ku. Aku lihat-lihat lagi postingan-postinganku yang lama.
Tiba-tiba aku jadi tersenyum sendiri. Postingan disebuah rumah makan dengan meja penuh makanan. Itu sebenarnya foto kami menghadiri pembukaan sebuah rumah makan. Boleh makan gratis dengan syarat harus bersama pasangan dan diposting di media sosial.
Lalu sebuah foto dengan latar pantai dan tanganku dan suamiku bergenggaman erat "Pacaran dulu ya..." Begitu caption ku. Kakakku mengajak kami mengunjungi Ihsan ponakanku yang sedang mondok di Malang. Karena gratis, kami ikut. Lalu kami mampir ke pantai dan berfoto. Kami tidak pernah punya duit untuk pergi piknik sendiri.
Selanjutnya ada foto Mas Fajar berangkat sholat Jum'at ke masjid. Tampak ganteng dengan baju koko putih dan sarung senada "Selamat hari Jum'at imamku 😘😘". Begitu caption yang ku tulis. Setiap yang melihat postingan ini pasti mengira Mas Fajar laki-laki yang sholeh. Tidak ada yang tau bahwa itu adalah sholat Jum'atnya untuk pertama kalinya dalam 2 tahun terakhir.
Dan postingan-postingan yang lain tidak lain adalah foto-foto pencitraan rumah tangga ku dengan mas Fajar yang sedang diujung tanduk.
Mungkin Sari mengira keluargaku adalah keluarga yang harmonis, berduit. Berdasarkan postingan-postinganku di Facebook. Padahal, keluargaku ini hampir hancur. Mas Fajar itu tukang judi poker, judi online. Kerjaannya dirumah kalau tidak judi poker ya main game. Pekerjaannya sebagai kuli bangunan tak tentu, kadang ada kadang tidak ada. Hutang kami banyak di kakak-kakakku bahkan di rentenir.
Mas Fajar juga malas sholat. Foto sholat Jum'at yang aku posting kemarin adalah foto sholat Jum'at pertamanya kira-kira selama 2 tahun terakhir. Itupun karena aku berjanji memberinya jatah ranjang 2 kali dalam satu hari.
Selama ini aku bersabar menghadapi kekurangan suamiku. Aku menutupi aib keluargaku dengan menggambarkan seolah-olah keluargaku baik-baik saja. Aku hanya berdoa dan berdoa agar suatu hari dia bisa berubah.
Tetapi perubahan itu tidak kunjung datang. Hidayah belum juga menyapanya.
Sifat buruknya malah bertambah dengan main perempuan dan suka memukul atau memakiku. Aku sudah tidak tahan. Selama ini aku menutupi kekurangan-kekurangannya. Tapi tidak lagi ketika fisikku sudah disakiti. Aku akan mengakhiri rumah tangga ini.
Sari. Jika kamu mengira kehidupanku sempurna, kamu salah. Aku hanya tidak ingin orang lain tau aib rumah tanggaku. Tapi jika kamu memaksa memiliki kehidupan yang telah ku miliki. Silahkan. Aku ikhlaskan suamiku untuk mu. Semoga kamu gak kaget, yah.
Tidak semua yang kamu lihat di dunia maya itu sama seperti kenyataannya. [kbm]
END
Oleh : Rina Priono
