![]() |
| Lutfi Alfiandi / Kompas |
Lutfi Alfiandi, dia ini kan yang fotonya heboh jadi ikon "perjuangan" adik-adik pelajar STM itu ya. Foto Lutfi yang berseragam anak STM membawa bendera merah putih di bawah serangan gas air mata dari polisi pengawal rejim yang viral di media.
Hingga kini pun nasib Lufti tidak jelas, katanya masih dipenjara. Meski ada sejumlah tokoh dan anggota dewan siap menjadi penjaminnya, namun tetap saja dia tidak bisa lepas dari tuntutan penjara. Namun beda nasib dengan si anak bos yang menghina Presiden, si anak bos ini bebas melenggang. Hanya diperiksa sebagai saksi dan hanya dianggap sebagai kenakalan anak ingusan.
Memang begitulah nasib kebenaran di negeri ini. Perjuangan mengguggat pelemahan KPK akhirnya berujung penjara, sedangkan penghina presiden hanya dianggap lucu-lucuan.
Dan terbukti sekarang, dengan lemahnya KPK dan dibentuknya Dewan Pengawas berimbas pada kinerja KPK. Lihat saja ketika seorang anggota komisioner KPU, Wahyu Setiawan tertangkap tangan oleh KPK. Pada saat yang bersamaan, kasus ini menyeret nama Hasto Kristiyanto, yang merupakan sekjend partai penguasa dan sekaligus salah satu partai "terkorup" di negeri ini. Ketika KPK akan menggeledah kantor partai tersebut, harus ada surat ijin dari dewan pengawas. Hihi, lucu. Ibarat akan menangkap maling yang bersembunyi di rumah, tapi harus ijin dengan si pemilik rumah, ya keburu kabur malingnya.
Inilah rezim dari hasil kecurangan, meskipun sekarang sang rival sudah menjadi pecundang dan bergabung dengan penguasa. Kini terlihat siapa yang telah membohongi rakyat. Barang busuk meski disembunyikan rapat-rapat pasti akan tercium juga baunya. Satu persatu kasus mulai terkuak. Mega korupsi Jiwasraya, korupsi Asabri, korupsi Pelindo dan borok-borok lain pun mulai terbuka pelan-pelan.
Nasib Lufti ini adalah bentuk ketidakadilan yang harus diperjuangkan. Namun ada hal yang lebih memprihatinkan, kehidupan berbangsa dan bernegara yang terkoyak. Hasil dari berbagai kecurangan yang dilakukan kaum elit yang rakus.
Negara hancur ketika dikelola oleh para perampok. Duit milyaran dan triliyunan buat bancaan para elit dan penguasa. Sedangkan rakyat harus bersusah payah membayar iuran BPJS yang mencekik, listrik yang terus merangkak naik, dan kebutuhan hidup yang semakin melangit.
Dungu pemimpinnya, ambyar rakyatnya. [kbm]
#salamwaras
Oleh : Poerwa Ananta
