Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Ibu Yang Terluka

Ilustrasi Ibu Tua yang Ringkih
Ilustrasi Ibu Tua yang Ringkih / Net

Perih, rasa itu yang langsung menghujam ulu hatiku, ketika menatap wajah sendu seorang ibu sepuh yang kini duduk terpekur di sofa ruang rias yang berada di salah satu gedung pertemuan di bilangan Bekasi Timur.

Sorot netranya memancarkan rasa yang tak bisa kujabarkan. Ada sedih, malu, dan minder. Wajar, jika beliau merasa demikian. Di kala semua keluarga pengantin tampil cantik memukau dengan riasan yang aduhai dan baju kebaya yang indah, beliau hanya mengenakan daster lusuh, jilbab yang kusut acak-acakan yang menampakkan helaian rambut putihnya dan sepasang sandal jepit usang.

Kening yang berkernyit dan wajahnya yang meringis menyiratkan bila beliau menahan rasa sakit yang teramat sangat. Itu terbaca dari cara duduknya yang tidak nyaman. Berulangkali beliau beringsut, mencoba mencari posisi yang nyaman. Tangan kanannya bergetar bertopang pada sebilah kayu reng (jari-jari atap rumah) yang beliau jadikan tongkat (foto ada di wall Nirmala Ayu), sedangkan tangan kirinya menekan sofa yang beliau duduki.

Tanganku yang sedang memasang roncean melati pada sanggul pengantin tak juga mampu mengajakku untuk fokus berkonsentrasi. Hati ini selalu memerintah kepala untuk menoleh padanya, yang entah kebetulan atau tidak, mata kami selalu bersirobok. Seakan beliau hendak berkata, “Simbah ora kuat, Nduk.”

Sejak tadi hati ini bertanya-tanya, siapa beliau? Mengapa tak satu orang pun peduli padanya? Mengapa tak satu orang pun menghampirinya untuk sekedar bertanya? Simbah putri itu dibiarkan duduk termangu bersama sang suami yang sudah sama-sama sepuh. Terkucil bagai anak ayam yang terperangkap di dalam kandang bebek.

Pertanyaanku terjawab ketika rekanku bertanya, “Mana ibu pengantin pria? Beliau belum kelihatan sejak tadi, belum dirias juga. Waktu sudah mepet, sebentar lagi resepsi dimulai.”

Pengantin pria yang sebelumnya kulihat asyik dengan istri barunya langsung menjawab, seraya menunjuk ke arah simbah bertongkat tadi. “Itu ibu saya, Mbak.”

Ya Allah Gusti, mendengar jawaban si pengantin lelaki, hati ini terasa diremas-remas. Ingin aku menampar, mencakar, bahkan bila pantas memaki pasangan pengantin baru itu.

“Itu ibumu, mertuamu. Mengapa kalian tega membiarkannya? Mengapa kalian tak peduli? Justru asyik bercengkerama bersenda gurau? G*B*O*!” Kutahan sekuat tenaga agar kata-kata itu tak terucap. Kugigit bibir erat-erat menahan bulir air mata yang mulai mengaburkan pandangan.

Segera kuhampiri beliau, bersimpuh dan bertanya, “Mbah Putri, menawi Panjenengan kulo pacak i, ngagem sinjang lan kebaya, kinten-kinten kiyat mboten njih menawi lenggah ngrencangi mas e wonten ngajeng (Mbah Putri, Kalau Njenengan saya rias, memakai kain dan kebaya kira-kira sanggup tidak kalau menemani mas duduk di depan)?”

“Ora, Nduk. Wes Mbah e tak nang kene wae (Tidak, Nduk. Sudah Mbah di sini saja),” jawabnya parau. Suaranya bergetar seperti menahan tangis.

Akhirnya kami tim rias mengambil sikap, hanya bapak pengantin yang mendampingi. Ibunya kita minta untuk beristirahat saja, dari pada nanti terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

Begitu acara resepsi di mulai, semua orang menuju ruang resepsi. Tinggallah kami para tim rias, bersama si Mbah. Lagi-lagi, terasa sekali bagaimana beliau tidak dianggap kehadirannya.

Tak seorang pun keluarga yang menemani, atau sekedar basa basi dari sang pengantin pria, menitipkan ibunya kepada kami. Sikap pengantin wanita pun tak kalah judesnya. Jangankan menghampiri untuk mencium tangan sang mertua. Menoleh pun tidak. Duh Gusti ….

Begitu ruang rias sudah sepi, tangis beliau pecah. Sepertinya beliau tidak kuat menahan sesak dalam dada yang sudah ditahannya sejak tadi. Berulang kali beliau memukul-mukul dada, “Owalah Gusti, direwangi adoh-adoh soko ndusun, tekan kene kok ra digagas to yo … yo.”

Kami semua terhenyak mendengar keluhan beliau. Reflek kupeluk tubuh ringkih tersebut. Berharap dekapanku bisa sedikit menenangkan.

“Sudah, Mbah Putri. Ndak usah khawatir, ada kami yang menemani Njenengan.”

Dengan batuan teman-teman aku membaringkan beliau di sofa. Tas usang beliau kami gunakan sebagai pengganti bantal. Lalu salah seorang temanku berlari keluar dan kembali dengan sebuah sarung yang entah dari siapa dia pinjam. Sarung itulah yang kami selimutkan ke tubuh beliau untuk melindungi dari hawa dingin AC. Meluncurlah cerita dari bibirnya yang kering dan pucat.

Beliau datang jauh-jauh dari kampung di daerah Ngawen, Blora ke Bekasi demi untuk menyaksikan Ragil (pengantin pria) yang tak lain putra bungsunya menikah. Dari kampung beliau naik travel (mungkin maksudnya angkot) hingga ke Ngawen. Lalu dari Ngawen beliau naik bis hingga tiba di Bekasi berdua dengan sang suami.

Entah apa yang ada dalam pikiran putra putri beliau membiarkan orang tuanya menempuh perjalanan jauh tanpa seorang pun yang mendampingi. Andai tak bisa mendampingi, mbok yao bayar orang untuk menemani beliau berdua. Andai terjadi sesuatu dengan mereka bagaimana?

“Lha Mbah Putri kan sakit, terus gimana kalau mau pindah bis?”

“Digendong sama Mbah Kakung.”

Gusti, Sungguh aku tak tahu harus berkata apa. Netra beliau berbinar-binar ketika menceritakan putra putrinya yang berhasil dalam karir. Putra pertama seorang lelaki, bekerja di Bank Mandiri, saat ini sedang plesir (berjalan-jalan) ke luar negeri. Batinku, “Bocah koyo opo iku? Berat jalan-jalannya dari pada mendampingi orang tua di pernikahan adik bungsunya.”

Putri kedua ikut suaminya di daerah Pantai Ayah. Putri ketiga ikut suami yang pengusaha batik sukses di daerah Pemalang, dan Putra ke empat si Ragil yang saat ini menikah. Di kampung mereka hanya tinggal berdua. Mbah Kakunglah yang merawat Mbah Putri yang sakit, susah berjalan sejak kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Ketika kutanya apakah sudah berobat? Katanya sudah, di Puskesmas.

Sungguh, aku tak habis pikir, apa yang ada dalam pikiran saudara-saudara si Ragil, hingga tak seorang pun datang di pernikahan adiknya. Lupakah mereka jika terlahir dari rahim yang sama? Lupakah mereka jika dulu pernah tumbuh dalam satu rumah, disuapi ibu dengan tangan dan piring yang sama? Andai mereka tak setuju dengan calon istri sang adik, minimal dampingi orang tuanya. Hubungan saudara seperti apa ini?

Ketika kusuapi nasi, beliau makan dengan sangat lahap. Tadi pagi mereka baru datang dan langsung menuju gedung resepsi, tentu sangat lelah dan lapar. Karena belum sempat beristirahat. Apalagi biasanya orang desa, meskipun ada prasmanan jika makanan tidak dihidangkan atau diserahkan langsung, mereka malu untuk meminta.

Mata beliau berkaca-kaca, selarik doa terucap dari bibirnya, “Mugo Allah paring kelancaran nggo uripmu yo, Nduk. Diijabah opo kang dadi penggayuhanmu. Anak-anakmu dadi bocah sing bekti marang wong tua (semoga Allah selalu memberi kelancaran dalam kehidupanmu, diijabah apa yang jadi cita-citamu. Anak-anakmu jadi anak yang benar-benar berbakti kepada orang tua).”

Entahlah, apa sebenarnya yang ada dalam hati beliau. Walau tidak terucap aku bisa merasakan kepedihan itu.

Sahabat,

Tulisan ini kubuat bukan untuk menghakimi putra putra beliau, tetapi untuk kita jadikan kaca benggala. Namun, andai putra putri beliau yang merasa menjadi tokoh dalam cerita ini membaca, Alhamdulillah. Maafkan aku, bukan maksudku untuk julid atau mencampuri urusan pribadi kalian.

Sahabat, coba renungkan. Berapa banyak air susu ibumu yang telah kau hisap. Menjadikan tubuhmu sehat segar bugar, dan otakmu cerdas dan pintar hingga bisa menjadi orang sukses dan hebat seperti sekarang.

Berapa banyak peluh keringat yang ayahmu cucurkan, demi untuk menafkahi dan membiayai sekolahmu. Agar engkau bisa hidup layak dan terpandang seperti sekarang. Coba kalian catat, dan kalkulasikan. Aku yakin, bila kalian haturkan gunung emas di hadapan orang tuamu tidak akan pernah cukup untuk membalas segala jasa-jasa beliau.

Untuk apa hartamu, untuk apa kemewahan yang kalian miliki, untuk apa gelar sarjana dan kesuksesan yang kalian raih? Percuma, bila tidak kalian imbangi dengan bakti terhadap orang tua. Tidak sedihkah kalian? Di saat kalian makan enak, tidur nyenyak, kemana-mana naik mobil pribadi, sementara ada bapak ibumu yang menderita? Naik turun bis dengan tongkat kayu sebagai penopang tubuh? Jika kalian malu dengan penampilan orang tuamu yang ndeso, dandani, belikan beliau baju-baju yang layak hingga mereka bisa mengangkat kepala tanpa risih, malu dan rendah diri.

Pliss deh, jangan bilang jika apa yang kalian raih saat ini adalah berkat usaha kalian sendiri, atau kalian merasa salah orang tua yang tidak membekali kalian dengan ilmu agama dan akhlak yang baik. Tanpa doa restu dari orang tua mustahil kalian berada dalam posisi nyaman seperti sekarang.

Untuk para menantu perempuan, ingatlah. Bagaimana dulu mertuamu bersusah payah mendidik dan mengasuh suamimu hingga menjadi orang sukses, dan kini kalian yang tinggal menikmati. Sayangi mertuamu seperti engkau menyayangi ibu kandungmu. Apalagi kelak engkaupun akan menjadi mertua. Tentu engkau tidak mau bukan? Mendapat perlakuan buruk dari menantumu?

Untuk para menantu lelaki, ingatlah, perempuan yang engkau nikahi dan engkau jadikan pendamping hidup adalah putri dari seorang lelaki yang demi kebaikan istrimu rela mengorbankan jiwa dan raganya. Jangan halangi istrimu untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Bantu dia untuk menjadi anak yang sholehah. Jangan karena merasa surga istri ada pada ridho suami lalu engkau membatasi langkah istrimu untuk mengabdi kepada orang tuanya. Bayangkan sakitnya, bayangkan perihnya jika kelak engkau mendapat perlakuan serupa dari putrimu.

Orang tua dan mertua sama saja, jangan dibedakan. Bila kalian ingin selamat dunia akherat, kasihi beliau dengan tulus.

Mungkin salah satu pembaca ada yang akan berkomentar, Ah Mbak Nir belum pernah merasa disakiti orang tua sih. Aku wes wareg (kenyang) mendapat perlakuan buruk dari bapak ibuku, Mbak. Tapi kembali lagi, apa ya terus-terusan mau menyimpan dendam? Untuk apa?

Bersukurlah jika sampai saat ini Njenengan semua masih memiliki orang tua atau mertua. Saat sakit mendera hati, saat hidup ditempa masalah, masih ada tempat untuk pulang mengadu pada ayah, merasakan hangat pelukannya dan berbaring di pangkuan ibu merasakan lembut elusan tangannya.

Allah pun menjanjikan pintu surga selalu terbuka lebar untuk anak-anak yang berbakti. Karena sesakit-sakitnya seorang anak adalah kehilangan tempat mengadu, kehilangan sosok yang selalu mendoakan kita.

Cukup aku saja yang merasakan sakitnya kehilangan, kalian jangan.

Setelah membaca tulisanku ini, yang dekat dengan ibu dan ayah segera peluk beliau, cium kakinya, dan katakan, “Aku selalu menyayangimu, Pak, Bu.”

Untuk yang berjauhan dengan orang tua, segera telpun beliau, tanyakan kabarnya dan katakan, “Aku selalu merindukanmu, jangan pernah bosan doakan dan restui kami, Pak Bu.”

Semoga tulisanku ini membawa manfaat, mari sama-sama kita merenung.

Sudahkan kita menjadi anak yang berbakti? [kbm]

Salam sayang selalu.

Oleh : Nirmala Ayu

Getting Info...

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.