Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Goreng Pisang Bi Minah

Goreng Pisang
Goreng Pisang / Net

"Bunyi apaan tuh, Rin? Serem banget," ujar Wulan tiba-tiba. Ia semakin merapat ke sampingku. Hampir saja degupan jantung sahabatku ini terdengar lewat buruan napasnya yang semakin enggak karuan.

Gara-gara dia juga, sih. Cuma karena kepengen makan goreng pisang buatan Bi Minah, kami harus terpaksa pulang tengah malam gini. Gadis, kok, kayak orang ngidam.

"Ya udah, santai aja, kali. Palingan suara burung hantu," jawabku sambil sedikit menjauhkan jarak. Aku tetap berusaha tenang melangkah. Padahal ....

"Santai bagaimana? Orang suaranya seram kali pun, mana malam Jumat, lagi." Ia kembali merengek seolah tidak bersalah. Dia yang buat, dia pula yang manja.

"Salah ndiri. Kan aku tadi udah bilang. Kampung ini serem banget, jarang orang keluar malam. Kamunya aja yang sok berani tadi. Cuma gara-gara goreng pisang. Kayak orang ngidam aja, kau." Aku kembali berujar. Tepatnya membentak di sela jantungku yang juga mulai tak karuan sesaat pandanganku berhenti di satu titik di ujung sana.

Jelas terlihat pagar itu menanti kami di bawah redup sinar rembulan. Pagar pemakaman umum yang terpaksa harus kami lewati. Andainya saja ada jalan potong. Sejauh apa pun kutempuh daripada melewati tempat itu. Sejak pertama kali tinggal di desa ini, tidak sedikit cerita berseliweran hal-hal aneh yang sering terjadi di makam itu.

"Kita balik aja, yuk! Kita nginap di rumah Bi Minah aja." Wulan kembali merapatkan tubuhnya. Hampir saja tanganku lebam terasa akibat genggamannya yang semakin kuat.

"Ada-ada aja kau ini. Udah lebih separo jalan pun. Enggak capek apa, jalan terus?" sahutku sambil terus melangkah.

"Tapi aku takut. Tuh, kuburannya udah dekat. Gimana, dong?"

"Santai aja. Jangan tengok kiri kanan. Kalau ada di samping, kan kita enggak lihat?" Aku terus mencoba bersikap tenang sambil melangkahkan kaki yang semakin tak karuan getarnya.

"Nengok belakang, boleh?"

"Jangan."

"Kalau dia datang dari depan?"

Lagi-lagi Wulan membuat jantungku hampir lepas akibat pertanyaannya ini. Aku malah berpikir ucapannya benar juga, gimana kalau datangnya dari depan. Sudah itu, di belakang juga ternyata sudah ada yang nunggu, mau kemana kami? Ah, sudahlah. Aku masih mencoba untuk bersikap tenang. Bisa hancur reputasi ku, kalau terlihat takut di depan Wulan.

Suasana semakin dingin terasa sesaat sepoi angin malam menerpa wajah kami bersama bunyi binatang yang juga ikut merangsang bulu-bulu kecil di tanganku berdiri. Sesekali aku menghela napas mencoba mengatur denyut jantung.

Tak bisa kubohongi diri, ketakutanku mungkin jauh lebih besar dari Wulan. Benar memang kata orang. Semakin orang di samping kita ketakutan, dua kali lipat kita akan merasakannya. Sama halnya denganku saat ini. Namun, tetap kutahan.

Kami meneruskan perjalanan yang rasanya masih sangat jauh. Padahal dari tempat ini ke rumah, paling sekitar satu kilo meter. Sebuah jurus yang biasa aku gunakan dalam masa-masa genting seperti ini, sudah aku siapkan.

Baru beberapa langkah berjalan, jantungku kembali disentakkan tingkah Wulan. Ia merangkulku sambil menunjuk ke arah depan lalu berujar, "Ha ... kan. Lihat deh! Dia datangnya dari depan. Gimana, dong, Rin?"

Aku menghentikan langkah. Sesosok tubuh terlihat gontai melangkah ke arah kami.

"Kamu, udah siap. Kamu masih ingat, kan, jurus kita?" ujarku dengan napas hampir keluar semua. Perlahan Aku melepaskan rangkulan Wulan.

"Jurus yang mana?"

"Jurus yang dulu sering kita keluarkan kalau lagi kayak gini."

"U uh. Ingat. Ya udah, cepat lah, dari pada mampus kita!" sahutnya sambil mengambil kuda-kuda.

"Ayo ...." jawabku perlahan sambil memutar badan.

Tanpa ragu sedikit pun kami mengambil ancang-ancang. Jurus langkah seribu yang sedari tadi kami persiapkan langsung keluar. Secepat kilat berlari meninggalkan tempat itu.

Entah sudah berapa lama kami berlari, badan yang tadi sudah lelah langsung hilang seketika. Kami tidak berpikir apa-apa lagi selain, segera sampai ke rumah Bi Minah. Itu rumah terdekat dari posisi kami saat ini. Biarlah tidur di rumahnya, daripada harus berpapasan dengan makhluk itu lagi. Mau apa pun itu.

"Bi ... Bi, bukain dong!" Wulan hari histeris sambil tak berhenti mengetuk pintu sesampainya kami di rumah sekaligus warung penjual goreng pisang.

"Iya, Bi. Tolong kami, Bi!" timpalku. Jantung rasanya hampir copot bersama napas yang semakin memburu.

Wajah Bi Minah nongol sesaat pintu terbuka. "Ada apa kalian ini?" tanyanya. Wajahnya mungkin heran melihat kami yang semakin kelimpungan.

Tanpa menjawab kami langsung masuk.

"Bi, tutup, Bi. Nanti dia datang!" seru Wulan.

"Iya, Bi. Cepetan tutup!" Aku menimpali sambil meraih pintu.

Sambil mengatur napas, aku duduk di sebuah kursi kayu. Kursi yang dipersiapkan Bi Minah, untuk orang yang beli gorengannya.

"Kami tidur sini aja, ya, Bi!" pinta Wulan. Terlihat ia tak berhenti menarik napas.

"Memangnya, kenapa. Kalian enggak berani pulang?"

"Iya, Bi. Seram kali pun. Ada yang jalan-jalan, tadi di kuburan," jawabku sambil memandang wanita yang bisa dikatakan sudah tua itu. Dari keriput wajahnya, dapat diperkirakan umur Bi Minah, sudah di atas enam puluh tahunan.

Mungkin merasa kasihan juga lucu melihat keadaan kami, Bi Minah mengangguk sambil tersenyum. Ia meraih teko di meja, lalu mengarahkan ke hadapanku.

"Lagian, kalian juga yang bandel. Kan udah bibi bilang tadi? Nginap sini aja, tapi kalian enggak mau ... Ya udah, kalian minum dulu. Itu masih ada goreng sisa tadi, kalau mau. Udah dingin memang."

"Iya, Bi. Makasih," ucap kami serentak. Lega rasanya.

"Ya udah, kita ke kamar bibi, aja. Udah larut. Kalian besok mau sekolah," ujar Bi Minah kembali sambil melangkah ke sebuah kamar, satu-satunya ruangan tidur di rumahnya.

"Bi, kami tidur dekat, Bibi, ya?" pinta Wulan manja. Ia menolak tidur di kasur lantai yang tadi di kembangkan Bi Minah.

Lagi-lagi wanita tua itu tidak dapat menolak permintaan kami. Anggukannya mengiringi hamburanku juga Wulan, ke kasur tempat tidurnya.

####

"Bi, kami balik dulu, ya, Bi. Nanti kami balik lagi." Wulan bersorak dari depan pintu. Kami harus sampai di kost-an, mandi langsung berangkat ke sekolah.

"Ya, udah, hati-hati. Jangan lupa, singgah nanti," sahut Bu Minah dari dapur. Seperti biasa mungkin, sudah sibuk membuat goreng pisang, yang akan dijualnya hari ini.

"Beres, Bi. Jangan lupa juga. Goreng yang mau kami bawa ke sekolah nanti." Aku menimpali. Tidak ada salahnya, aku juga membantu wanita ini, menitipkan gorengan buatannya di kantin sekolah kami. Hitung-hitung ucapan terima kasih.

Tidak perlu menunggu lama kami sudah kembali ke rumah mirip warung ini.

"Ceria amat. Mau kemana kalian?" Bi Minah langsung menyambut kami dengan senyum khasnya. Senyum yang selalu menciptakan lubang kecil di pipinya yang mulai terlihat keriput.

"Bibi, ada-ada aja. Kan kami udah janji tadi, mau bantuin jualin gorengannya, Bibi. Udah siap, kan?" Aku menjawab penuh semangat. Sambil melihat ke arah meja yang masih kosong. Mungkin Bi Minah, baru selesai menggoreng yang akan kami bawa saja pikirku.

"Janji mau jualin goreng?" Kening Bi Minah tiba-tiba berkerut. "Kapan?" tanyanya lagi.

"Ya tadi loh, Bi. Subuh-subuh sebelum kami pulang. Masa, Bibi, lupa. Kami, kan tidur disini semalam. Tadi pagi, kami malah bantuin Bibi bikin gorengan."

"Bibi, enggak ada bikin gorengan pagi ini. Bibi masih capek."

Aku mengalihkan pandangan ke Wulan. Lagi-lagi jantungku seolah kena setruman tegangan tinggi. Mungkin Wulan juga demikian. Ia langsung merapatkan badannya ke sampingku.

"Bibi, jangan becanda deh, Bi. Jelas-jelas kami tidur di samping Bibi, semalam." Aku kembali menjelaskan. Namun, berharap Bi Minah benar-benar lupa. Biasa kan, orang yang sudah berumur pelupa.

"Ada-ada aja kalian ini. Bibi aja baru nyampe. Gimana bibi bisa tidur bareng kalian? Udah seminggu bibi enggak di sini," jawab Bi Minah. Dari raut wajahnya terlihat sangat serius kali ini.

Aku menoleh kembali ke arah Wulan yang juga memandangku. "Jadi gimana ini?" bisiknya.

"Mboh," jawabku sambil menggelengkan kepala. Bagaimana mungkin Bi Minah bisa lupa secepat ini? Apa mungkin pikunnya sudah stadium empat? Sampai tidak ingat kejadian sejam yang lalu. Mana aku terus meluk dia, lagi semalam.

19122019

Tinggalkan jejak ya, Mak. Panjang-panjang. Pake sambal pun tak apalah. [kbm]

Oleh : Dian

Getting Info...

إرسال تعليق

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.