![]() |
| Gambar Hanya Ilustrasi "Gas Melon" / Net |
Masih ingat saat dulu Pak JK mengajak masyarakat beralih dari penggunaan minyak tanah ke tabung gas elpiji 3 kilogram atau tabung gas melon. Solusi jitu disaat produksi minyak semakin menurun, sedangkan gas stoknya berlimpah.
Harga yang cukup terjangkau, kualitas api yang cukup bagus dan bobot yang enteng, menjadikan gas melon akhirnya bisa diterima masyarakat. Meski harganya beberapa kali tidak stabil.
Sayangnya makin ke sini, makin tak terkendali harganya. Mungkin imbas salah kelola atau tidak becusnya pemerintah mengelola Badan Usaha Milik Negara atau BUMN. Hingga banyak yang bangkrut dan banyak dikorupsi.
Terbaru, rencana pemerintah untuk mencabut subsidi gas melon. Harga yang dulu untuk konsumen dua puluh ribuan, nanti bisa sampai tiga puluh ribu lebih. Makin lengkap penderitaan masyarakat bawah. Setelah berbagai tarif naik di awal 2020, gas melon pun mau ikutan naik. Sungguh, namanya tak semanis harganya.
Tapi apa boleh buat, hidup mesti lanjut terus. Tak mungkin bisa menghindari kenaikan harga. Walau ada bahan bakar alternatif, seperti kayu misalnya. Apalagi buat para pengusaha kecil/UKM, juga para Emak yang punya suami berpendapatan kecil. Ini pukulan yang sangat berat bagi mereka.
Tak ada jalan lain selain mendoakan agar pemimpin dan para pejabatnya bisa amanah melayani rakyat. Mengelola sumber daya alam dan kekayaan negara dengan benar. Berhemat, mengencangkan ikat pinggang dengan ketat. Tidak menambah utang. Hemat anggaran. Potong gaji presiden, menteri, anggota dewan, lembaga tinggi negara dan pejabat BUMN.
Iya, sebagai rakyat hanya bisa berharap seperti itu. Ada beberapa cara ekstrim yang bisa dilakukan juga, tapi pasti banyak yang menentangnya. Apalagi para buzzer penguasa dan mereka yang cinta mati sama si itu ... jadi cukup sekian saja. [kbm]
Oleh : Teguh Suprayogi
