Notification texts go here Contact Us Buy Now!

Cerita Horor Saat Mendaki Gunung

Mendaki Gunung
Mendaki Gunung / Net

Siapkan mental untuk membaca tulisan ini Gaes, yang penakut disarankan untuk skip aja karena mungkin cerita ini akan melegenda dalam ingatanmu seperti KKN di Desa Penari yang viral beberapa bulan lalu itu.

Sambil ngemil, aku tuliskan kisahku. Walaupun tanganku masih bergetar dan keringat dingin keluar saat mengingat kejadian horor tersebut.

Tanggal 31 Desember 2019
Hingga pertengahan hari aku belum juga mempunyai rencana bagaimana cara menyambut tahun baru. Dari pagi hanya lontang-lantung di rumah.

[Muncak kuy]

Sebuah pesan dari Anto hadir pada aplikasi WhatsApp ku

[Kemana?]

[Prau aja yang deket & gampang medannya]

Gunung Prau yang letaknya di dataran tinggi Dieng merupakan pilihan tepat bagi kami yang melabeli diri dengan julukan 'pecinta alam' untuk menyaksikan pergantian tahun.

Pesta kembang api maupun konser musik di alun-alun tidak pernah menarik minat kami. Tetapi memandang sunrise dari 'atas awan' adalah sensasi tersendiri. Kenapa Anto tidak mengajakku ke Sumbing atau Sindoro yang lebih dekat. Pastinya dengan pertimbangan ini pendakian mendadak tanpa persiapan. Kalau ke gunung lain harus ada persiapan yang lebih matang, setidaknya secara fisik.

Pukul 2, aku segera meluncur ke rumah Anto. Dari rumah Anto kami naik angkot menuju terminal Mendolo. Bersambung ke basecamp Patak Banteng. Magrib kami tiba di basecamp, registrasi, makan, tak lupa menunaikan kewajiban salat magrib dan isya.

Menjelang tahun baru basecamp ramai Gaes. Banyak sekali rombongan yang juga mau naik. Bahkan ada yang datang dari Jakarta maupun Surabaya.

Jam sembilan malam kami memulai pendakian, dengan harapan sampai sunrise camp jam sebelas. Setidaknya ada waktu pas jam tahun berganti kita dah dipuncak nanti. Biar memorable gitu loh.

Perjalanan ke atas terasa ringan. Bukannya sombong ya gaes, bagi kami yang sudah terbiasa malang melintang di dunia pendakian, Gunung Prau memang terbilang bermedan ringan.

Singkat cerita kami menginjakkan kaki di sunrise camp dua jam kemudian. Tanpa buang waktu kami mendirikan tenda. Agak melipir dari tenda-tenda lain. Canda tawa, petikan gitar, aroma kopi dan mie instan dari tenda-tenda yang menjamur menghiasai malam terakhir di tahun 2019.

Setelah tenda berdiri aku berbagi tugas dengan Anto. Aku memulai membuat api unggun untuk menghangatkan badan, sementara Anto menjerang air untuk menyeduh jahe wangi.

Kayu-kayu kering yang kubawa dari bawah tadi belum terbakar sempurna, masih berupa asap yang memedihkan mata, saat tanpa sengaja netra ini menangkap sekelebat bayangan.

Waduh, dah pegel ngetik gaes batre dah tinggal 2 persen juga, mau tak lanjut besok tapi kalian pasti dah penasaran kan?

Oke lanjut ngetik sambil ngecharge HP.

Seketika seluruh tubuhku merinding, jantungku berdentum dua kali lebih cepat saat menyadari bahwa sosok itu ....

Wusss ...

Angin kencang tiba-tiba menerpa area tenda. Api unggun yang hampir menyala sempurna mendadak mati.

"Banjur pakai minyak tanah, biar cepet jadi." Anto menyarankan.

Aku manut saja. Sementara hati ini sudah tidak bisa diajak kompromi. Dengan takut-takut kulihat lokasi dimana sosok itu tadi muncul ternyata sudah tidak ada.

Kuedarkan pandangan ke penjuru arah. Nihil.

"Ni jahe wanginya dah jadi." Anto mengangsurkan segelas jahe wangi yang masih mengepulkan uap.

"Thanks, Bro," kelakarku.

Sahabat kentalku itu kemudian berdehem, menatapku penuh arti "Bim, tadi kamu lihat?"

Jadi Anto juga melihatnya?

"Iya," jawabku lirih.

Anto menepuk bahuku. Kami sama-sama tahu bahwa kami tidak perlu membicarakannya.

Tapi, instingku tak dapat dibohongi. Aku merasa sosok itu tak jauh dari kami saat ini. Benar saja, saat kutengok ke belakang ....

"Bima, Anto, kalian kemping juga di sini?" tanya suara yang tidak asing bagiku. Dialah Emily, sang pemilik hati yang tiga bulan lalu memutuskanku dengan alasan 'kamu terlalu baik untukku, Bim'

Aku dan Anto hanya bisa nyengir.

"Oya, kenalin nih tunangan aku," Emily memperkenalkan lelaki berkumis tipis itu kepada kami.

Oke gaes, begitulah cerita hororku waktu mendaki gunung. Yaitu ketemu mantan dengan pacar barunya.

Sampai jumpa pada cerita selanjutnya [kbm]

Oleh : Velove Alena

Getting Info...

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.